Jakarta

Strategi Mahasiswa Unpam Serang: Dorong Rajungan Lempuyang Tembus Pasar Eropa via Digital Marketing

M. Rafix | 9 Mei 2026, 16:04 WIB
Strategi Mahasiswa Unpam Serang: Dorong Rajungan Lempuyang Tembus Pasar Eropa via Digital Marketing
Mahasiswa UNPAM latih pembudidaya rajungan Desa Lempuyang kuasai digital marketing dan prosedur ekspor mandiri untuk tembus pasar Eropa.

AKURAT JAKARTA - Potensi hasil laut Indonesia, khususnya rajungan, merupakan harta karun ekonomi yang sering kali belum dinikmati secara maksimal oleh para nelayan dan pengolah lokal.

Di Desa Lempuyang, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, para pembudidaya rajungan selama ini masih terjebak dalam rantai distribusi panjang yang membuat keuntungan mereka terpangkas habis oleh pihak perantara.

Fenomena ini memicu sekelompok mahasiswa dari Program Studi Manajemen Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Kota Serang untuk turun tangan melakukan perubahan nyata.

Pada Kamis, 30 April 2026, tim mahasiswa yang diketuai oleh Siti Juhaeni menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang berfokus pada digitalisasi pemasaran produk lokal.

Dalam pelaksanaannya, Siti tidak sendirian. Ia didampingi oleh rekan-rekan mahasiswa lainnya, yaitu Cindy Fina Fateha, Wardatul Raihana, Nur Khairiah, dan Wida Qonitatul Wiqoyah, yang berperan aktif dalam membimbing para pelaku usaha.

Kegiatan PKM

Mengingat rajungan merupakan komoditas primadona di pasar internasional seperti Belanda dan Jerman, kegiatan ini dirancang untuk memutus ketergantungan pelaku usaha lokal terhadap kota transit seperti Semarang.

Melalui bimbingan dosen pendamping Amalia Fatia, S.Akun., M.M., para mahasiswa memberikan edukasi mendalam mengenai strategi ekspor mandiri agar nilai tambah produk sepenuhnya dirasakan oleh warga Desa Lempuyang.

Transformasi Digital dan Kekuatan Merek

Salah satu sorotan utama dalam pelatihan ini adalah pemanfaatan platform Business to Business (B2B) skala global.

Tim mahasiswa melatih para pelaku UKM untuk mengoperasikan platform seperti Alibaba dan Global Sources agar mereka bisa berinteraksi langsung dengan pembeli dari luar negeri tanpa pihak ketiga.

Langkah ini dianggap krusial karena di era digital saat ini, kehadiran profil bisnis yang profesional di dunia maya adalah syarat mutlak untuk membangun kepercayaan konsumen global.

Selain teknologi, penguatan identitas produk atau branding menjadi materi yang sangat diperhatikan.

Produk rajungan dari Desa Lempuyang didorong untuk memiliki narasi unik melalui brand story yang menonjolkan metode budidaya ramah lingkungan dan kualitas premium.

Peserta diajarkan cara mendesain kemasan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memenuhi regulasi ketat Uni Eropa, termasuk pencantuman informasi nilai gizi dan standar keamanan pangan.

Memahami Regulasi Ekspor Tanpa Rasa Takut

Selama ini, prosedur ekspor sering dianggap sebagai hambatan yang rumit bagi pelaku usaha kecil.

Untuk mematahkan persepsi tersebut, Siti Juhaeni dan rekan-rekan timnya memberikan simulasi praktis mengenai pengurusan dokumen penting seperti Invoice, Packing List, hingga Health Certificate dari BKIPM.

Pemahaman mengenai Incoterms juga diberikan agar para pembudidaya mampu melakukan negosiasi harga yang adil dengan importir asing tanpa harus menanggung risiko yang merugikan.

Acara yang berlangsung di Desa Lempuyang ini diakhiri dengan sesi diskusi interaktif serta penyerahan penghargaan sebagai simbol dimulainya langkah kemandirian ekonomi desa.

Penyerahan Penghargaan

Dengan adanya pendampingan berkelanjutan dari Cindy, Wardatul, Nur, dan Wida, diharapkan komunitas eksportir mandiri di Kecamatan Tanara segera terbentuk.

Langkah kolektif ini diharapkan membawa rajungan lokal ke meja makan konsumen di Eropa dan meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir Banten secara signifikan.**

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rafix
M
Editor
M. Rafix