Harga Plastik Dalam Negeri Melonjak 50%, Pedagang Pasar Mulai Teriak, Ternyata Ini Penyebabnya!

AKURAT JAKARTA – Satu bulan pasca pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, krisis energi global mulai merembet ke sektor manufaktur dan konsumsi.
Kelangkaan minyak mentah kini memicu lonjakan harga berbagai produk turunan petrokimia, terutama plastik, yang melambung hingga 50% di pasar domestik.
Kondisi ini diperparah dengan kenyataan bahwa industri plastik nasional Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor.
Baca Juga: Persita Melejit di Super League, Zaki Iskandar Mulai Bidik Target Musim Depan
Ketergantungan Impor Picu Kenaikan Harga
Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik di pasaran sudah mencapai level yang mengkhawatirkan.
"Ini risiko jika kita masih ketergantungan impor. Dampak perang di Timur Tengah memberi implikasi serius ke dalam negeri. Kami pantau kenaikannya sangat signifikan," ujar Reynaldi, pada Sabtu (4/4/2026).
Sebagai ilustrasi, harga plastik kresek yang semula Rp 10.000 kini melonjak menjadi Rp 15.000 per pak. Sementara plastik klasifikasi lainnya naik dari Rp 20.000 menjadi Rp 25.000.
Kondisi ini mulai mengerek biaya operasional pedagang pasar yang menggunakan plastik sebagai kemasan utama, yang berpotensi memicu inflasi pada harga komoditas pangan.
Data Impor Plastik Indonesia
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, Indonesia mengimpor plastik dan barang dari plastik (HS 39) senilai US$ 873,2 juta atau setara Rp 14,78 triliun (kurs Rp 16.927).
Meski pemasok terbesar adalah China (US$ 380,1 juta), Indonesia juga mengimpor bahan baku dari negara-negara yang terlibat konflik atau terdampak langsung.
Seperti: Impor dari Amerika Serikat senilai US$ 29,9 juta, Arab Saudi senilai US$ 14,9 juta, hingga Thailand dan Korea Selatan dengan total impor lebih dari US$ 140 juta.
Krisis Petrokimia Global dan Selat Hormuz
Terganggunya aliran minyak dan gas di Selat Hormuz yang ditutup oleh Iran, telah memangkas pasokan minyak global sekitar 20%.
Dampaknya tidak hanya menyasar sektor bahan bakar, tetapi juga menekan produksi petrokimia yang dibutuhkan untuk membuat pakaian, sepatu, hingga kemasan vakum.
Baca Juga: Sedia Payung, Hujan Ringan Guyur Jakarta Selatan dan Timur pada Senin Sore
Di kancah internasional, dampaknya bahkan lebih ekstrem. Di Korea Selatan terjadi aksi panic buying kantong sampah.
Di Jepang, terjadi krisis selang medis berbahan plastic yang mengancam pasien gagal ginjal.
Sedangkan Malaysia mengalami kelangkaan bahan turunan minyak yang mengancam produksi sarung tangan lateks global.
Rantai Produksi Terancam
Dan Martin dari Dezan Shira & Associates menjelaskan bahwa gangguan ini menyebar cepat ke berbagai sektor, mulai dari makanan ringan, kosmetik, hingga industri cat.
"Kelangkaan tutup botol, kemasan, hingga kontainer plastik membuat rantai produksi terganggu. Gejolak ini memberi tekanan tambahan pada inflasi global dan pertumbuhan ekonomi," jelasnya.
Dengan kenaikan biaya transportasi dan logistik akibat mahalnya bahan bakar, masyarakat diimbau bersiap menghadapi kenaikan harga barang konsumsi dalam waktu dekat. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





