Jakarta

Dolar AS Menguat Tajam, Harga Emas Dunia Anjlok di Tengah Gejolak Energi

Yusuf Doank | 22 Maret 2026, 17:06 WIB
Dolar AS Menguat Tajam, Harga Emas Dunia Anjlok di Tengah Gejolak Energi
Ilustrasi emas

AKURAT JAKARTA — Harga emas dunia ditutup melemah tajam seiring dengan menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS), yang kini menjadi pilihan utama investor di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mencatat harga emas dunia pada Sabtu pagi berada di level 4.497,37 dolar AS per troy ounce.

Penurunan di pasar global ini berdampak langsung pada harga logam mulia di dalam negeri yang terkoreksi ke angka Rp2.893.000 per gram pada Minggu (22/3/2026).

Baca Juga: Sayap Ormas Golkar DKI Jakarta Siapkan Program UMKM Bareng Kementerian

“Penurunan emas ini terjadi karena investor mulai beralih ke dolar AS yang saat ini menunjukkan penguatan signifikan,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta.

Proyeksi Koreksi dan Tekanan Inflasi

Secara teknikal, harga emas diprediksi masih berpotensi melanjutkan koreksinya pada awal pekan depan. Jika tekanan penguatan dolar terus berlanjut, harga emas domestik diperkirakan bisa menyentuh level Rp2.800.000 per gram.

Koreksi ini menjadi perhatian bagi masyarakat yang menjadikan emas sebagai instrumen perlindungan nilai (safe haven).

Di sisi lain, penguatan dolar AS yang menuju level 101,20 dibarengi dengan lonjakan harga energi. Harga minyak mentah jenis Brent berpotensi menembus kisaran 110 hingga 116 dolar AS per barel, dipicu oleh gangguan pasokan dari negara produsen utama seperti Iran dan Irak akibat konflik kawasan.

Kenaikan harga minyak dunia ini dikhawatirkan akan memberikan efek domino terhadap ekonomi umat dan bangsa. Sektor transportasi, khususnya penerbangan, mulai merasakan tekanan akibat kenaikan harga bahan bakar avtur. Hal ini diprediksi dapat memicu tekanan inflasi global yang lebih tinggi dalam jangka pendek.

Kombinasi antara dolar yang perkasa dan harga energi yang melambung menciptakan tantangan tersendiri bagi stabilitas ekonomi nasional.

Masyarakat diharapkan tetap bijak dalam mengelola portofolio investasi dan mewaspadai potensi kenaikan harga barang kebutuhan pokok akibat dampak lanjutan dari inflasi energi global ini.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y