Olahraga Konsisten Bisa Turunkan Risiko Kematian Hingga 40%: Bukti Ilmiah Terbaru dari Australia

AKURAT JAKARTA - Menjaga kebugaran tubuh bukan hanya tentang tampil bugar, tapi juga soal bertahan hidup lebih lama.
Penelitian baru dari Australia mengungkap fakta mengejutkan: olahraga yang konsisten dapat menurunkan risiko kematian dini hingga 40%.
Hasil ini menguatkan anggapan lama bahwa aktivitas fisik adalah kunci untuk hidup lebih panjang dan sehat.
Dalam dunia yang semakin padat dengan rutinitas dan tuntutan kerja, banyak orang dewasa kesulitan meluangkan waktu untuk berolahraga.
Padahal, seiring bertambahnya usia, tubuh manusia mengalami penurunan massa otot, kepadatan tulang, dan peningkatan risiko penyakit kronis.
Aktivitas fisik menjadi solusi yang efektif dalam mencegah dampak penuaan tersebut.
Penelitian Komprehensif yang Mengungkap Manfaat Aktivitas Fisik
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan Kamis (10/07) oleh British Journal of Sports Medicine dan dilansir New York Post, mengulas 85 studi besar yang melibatkan antara 357 hingga 6,5 juta peserta dewasa.
Studi ini difokuskan pada pola olahraga sepanjang usia dewasa serta kaitannya dengan angka kematian dari berbagai penyebab.
Para peneliti dari University of Queensland menyimpulkan bahwa orang dewasa yang aktif secara fisik memiliki risiko kematian akibat semua penyebab—terutama penyakit jantung—sebesar 30% hingga 40% lebih rendah.
"Hasil penelitian kami menekankan pentingnya (aktivitas fisik) di masa dewasa, yang mengindikasikan bahwa memulai (aktivitas fisik) di masa dewasa dapat memberikan manfaat bagi kelangsungan hidup," ujar para penulis studi dalam sebuah pernyataan, dikutip dari New York Post, Sabtu (12/07).
Baca Juga: Konser Hari Ini di Jakarta Fair Kemayoran ada Last Child, Simak Jadwal Lengkap PRJ 2025 di Sini
Beberapa poin utama dari analisis ini antara lain:
•Orang dewasa yang tidak aktif lalu mulai berolahraga memiliki kemungkinan 22% lebih kecil meninggal lebih awal dibanding mereka yang tetap tidak aktif.
•Mereka yang konsisten aktif sepanjang hidup atau hanya aktif di waktu luang memiliki kemungkinan 40% lebih kecil meninggal akibat penyakit jantung dan 25% lebih kecil meninggal akibat kanker.
•Berolahraga lebih dari 300 menit per minggu memang memberi manfaat, tapi tidak signifikan jauh lebih besar dari standar rekomendasi.
•Mereka yang beralih dari aktif menjadi tidak aktif akan kehilangan manfaat perlindungan dari olahraga.
•Dan yang terpenting: olahraga apa pun lebih baik daripada tidak berolahraga sama sekali.
Meskipun sebagian besar data yang digunakan berasal dari laporan mandiri—yang kemungkinan tidak sepenuhnya akurat—hasil ini menambah bukti kuat bahwa gaya hidup aktif secara fisik dapat memperpanjang umur.
Baca Juga: Banyak Pelamar PPSU dari Lulusan Sarjana, Pramono Enggan Sebut Akibat Minimnya Lapangan Pekerjaan
Kunci Umur Panjang: 150 Menit Aktivitas Fisik per Minggu
Rekomendasi global menyarankan orang dewasa melakukan antara 150 hingga 300 menit aktivitas fisik intensitas sedang setiap minggu, disertai dengan dua sesi latihan kekuatan otot.
Aktivitas seperti jalan cepat, bersepeda ringan, atau latihan beban ringan bisa menjadi pilihan.
Manfaatnya tidak hanya untuk kesehatan jantung, tapi juga membantu mengatur berat badan, memperkuat tulang, menjaga massa otot, serta memperbaiki suasana hati dan kesehatan mental.
Penelitian ini menegaskan kembali bahwa olahraga bukan hanya gaya hidup sehat—melainkan strategi bertahan hidup.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, mendorong aktivitas fisik secara luas dapat menjadi langkah penting untuk menurunkan angka kematian dini akibat penyakit kronis.
Tak peduli usia berapa pun, memulai aktivitas fisik secara rutin tak pernah terlalu terlambat.
Jadi, alih-alih menunda, mulailah bergerak hari ini juga. Karena, seperti yang ditunjukkan oleh para peneliti, tikus gym akan bertahan hidup di antara kita semua. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!



