Gegerkan Kesultanan Cirebon, ini Kisah Pangeran Jaya Kelana Putra Sunan Gunung Jati yang Dibuang ke Hutan

AKURAT JAKARTA - Pangeran Jaya Kelana adalah Putra Sunan Gunung Jati Cirebon dari Istri Nyai Syarifah Baghdadi.
Sunan Gunung jati Cirebon, memiliki dua putra dari pernikahannya dengan Nyai Syarifah Baghdadi.
Kedua putra Sunan Gunung Jati tersebut yaitu Pangeran Jaya Kelana dan Pangeran Brata Kelana.
Meski keduanya Putra Sunan Gunung Jati, namun antara Pangeran Jaya Kelana dan Pangeran Brata Kelana memiliki perilaku yang berbeda.
Baca Juga: Mengenal Boa Hancock, Sosok Anime Paling Cantik dalam One Piece
Pangeran Brata Kelana dikenal sebagai putra Sunan Gunung Jati yang memiliki perilaku sangat baik.
Berbeda dengan Pangeran Jaya Kelana, yang memiliki perilaku kurang baik. Bahkan pernah membuat kesultanan Cirebon menjadi geger akibat ulahnya.
Berikut Kisah Pangeran Jaya Kelana Putra Sunan Gunung Jati Dilansir Akurat Jakarta dari kanal YouTube Bung Fei.
Pangeran Jaya Kelana tumbuh dewasa dengan perilaku yang kurang baik, ia selalu iri dengan orang di sekitarnya.
Ia ingin hidup sebagai orang kaya dengan segala pasilitas yang serba ada, tidak dengan cara hidup ayahnya yang selalu mengajarkan untuk hidup sederhana.
Dari rasa iri ini dia memutuskan untuk menjadi saudagar agar bisa bergelimang harta, hingga dia menjadi kaya raya.
Namun kekayaan yang ia miliki dianggapnya belum cukup dan tidak ada apa-apanya.
Ia membandingkan dirinya dengan saudagar yang berdagang menggunakan kapal hingga keluar pulau Jawa.
Pangeran Jaya Kelana akhirnya memutuskan mengikuti saudagar lainnya untuk berdagang keluar pulau Jawa.
Namun naas bagi Pangeran Jaya Kelana karena dia harus terkena musibah, kapalnya hancur diterjang ombak.
Semua dagangan yang dibawa berlayar oleh Pangeran Jaya Kelana habis dan raib ke dasar lautan.
Beruntung bagi Pangeran Jaya Kelana yang masih bisa selamat dan tidak meninggal dilautan.
Mendapati anaknya semakin tamak, sang Ibunda Nyai Syarifah Baghdadi mencoba menasihati Pangeran Jaya Kelana.
Setelah mendapatkan nasihat dari Ibundanya, Pangeran Jaya Kelana kemudian menurutinya.
Pangeran Jaya Kelana berhenti dari kegiatan perdagangan yang ia geluti sebelumnya.
Setelah kegagalannya menjadi seorang saudagar kaya, ia pun menghabiskan hidup untuk bergaul dengan orang-orang preman.
Hari-harinya dijalani dengan bermain, menikmati musik sambil menari-nari dengan memainkan tarian kuda lumping.
Melihat keadaan anaknya yang semakin susah di atur Ibundanya kemudian menjadi sedih hati.
Hingga suatu ketika, saat Pangeran Jaya Kelana bersama teman-temannya berpetualang memasuki Goa Siuk di Kaki Gunung Ciremai.
Baca Juga: Iwan Fals Putuskan Netral di Pemilu 2024, Menolak Terkait dan Terikat Pasangan Capres Mana Pun
Pangeran Jaya Kelana beserta temannya melakukan penjelajahan, rupanya sang Pangeran menghirup belerang, seketika itu juga sang pangeran pingsan.
Pangeran Jaya Kelana kemudian dibawa ke Istana, seharian pangeran Jaya Kelana tidak sadarkan diri.
Setelah seharian pingsan akhirnya Pangeran Jaya Kelana siuman, Ibundanya mencoba menasehati putranya lagi.
Setelah mendapat nasihat Ibundanya itu, kemudian sang pangeran mencampakkan Rebana, serta alat-alat musik lainya beserta Kuda lumping yang ia miliki.
Setelah dua kali mengalami kejadian buruk akibat tingkah lakunya itu kemudian pangeran Jaya Kelana dikisahkan Insaf.
Pangeran Jaya Kelana kembali menjadi anak seorang Raja seperti yang lainnya, yang mau belajar.
Hari-hari Pangeran Jaya Kelana dihabiskan dengan belajar, baik belajar tata sopan santun, Ilmu Agama dan lain sebagainya.
Meskipun Pangeran Jaya Kelana hidupnya kini dihabiskan untuk belajar Agama, akan tetapi rupanya ilmu-ilmu yang ia dapat tidak meresap kedalam sanubarinya.
Pangeran Jaya Kelana tidak peka terhadap kehidupan orang-orang miskin, ia lebih cenderung tak mau peduli terhadap orang dibawahnya.
Meskipun demikian Pangeran Jaya Kelana kemudian merasa cukup dalam kemampuan beragama,
Pangeran Jaya Kelana memutuskan untuk berlayar untuk menunaikan Ibadah Haji ke Makkah dengan menggunakan kapal.
Akan tetapi rupanya bencana ditengah lautan menghalanginya, kapal yang ia tumpangi kembali diterjang gelombang.
Kapal Pangeran Jaya Kelana hancur berantakan, Ia terombang-ambing ditengah lautan.
Pangeran Jaya Kelana mencoba untuk menyelamatkan diri dengan menaiki sisa-sisa kayu pecahan Kapal.
Sang pangeran akhirnya kemudian berhasil selamat, ia berhasil diselamatkan oleh para nelayan.
Mendapati kejadian buruk yang beberapa kalinya menimpa anaknya itu, Sang Ibunda kemudian menasihati anaknya lagi.
Setelah peristiwa gagalnya Pangeran Jaya Kelana untuk menunaikan Ibdah haji, sang pangeran diceritakan aktif didalam masjid.
Baca Juga: Sukses Jaga Toleransi di Tangerang, Bang Zaki Terima Apresiasi dari Uskup Agung Jakarta
Pangeran Jaya Kelana merasa sudah mahir dalam agama, ia pun lalu mengajukan diri untuk menjadi Khotib Jumat di Masjid Kesultanan.
Tentu saja para pengurus masjid tak dapat menolak permintaan Pangeran Jaya Kelana, anak Rajanya itu.
Namun apa yang dilakukan Pangeran Jaya Kelana justru membuat gempar seluruh Kesultanan Cirebon.
Pangeran Jaya Kelana menjadi Khotib dan Imam Jumat tidak sesuai dengan syariat dan tata-cara Shalat Jumat.
Sang Pangeran pun kemudian dianggap mencoreng Agama, dan dianggap batal menjadi Khotib oleh para ulama dan aulia di kesultanan Cirebon.
Waktu kejadian ini Ayah beliau Sunan Gunung Jati tidak menyaksikan peristiwa, karena sedang melakukan kunjungan kenegaraan di Pajang.
Para Aulia dan Ulama di Cirebon kemudian marah besar terhadap Pangeran, diantaranya Syekh Datuk Kahfi, Sunan Makdum, Syekh Hatim, Pangeran Kadarjati, Dan Fakih Abdullah.
Para ulama tersebut lantas mengajukan tuntutan ke Kesultanan agar sang pangeran dihukum.
Pangeran Jaya Kelana akhirnya dibawa ke pengadilan, namun ketika dibawa ke Pengadilan tak ada satupun hakim yang berani memutuskan.
Hukuman apa yang tepat untuk dijatuhkan kepada pangeran, Mengingat waktu itu Sunan Gunung Jati sedang tidak ada di Cirebon. Hukuman kemudian ditunda.
Setelah beberapa lamanya kemudian Sunan Gunung Jati pulang. Ia kemudian menerima laporan dari bawahannya soal kelakukan anaknya.
Sunan Gunung Jati lalu mengumpulkan seluruh pejabat, dan tamu Negara yang berada di Cirebon.
Dalam pengadilan tersebut kemudian Sunan Gunung Jati menjatuhkan hukuman agar Pangeran Jaya Kelana ditimbang bobot tubuhnya dengan uang dinar.
Setelah uang dinar itu menyamai bobot dari Pangeran Jaya Kelana kemudian uang itu dibagikan kepada orang miskin,
Selain itu pangeran Jaya Kelana juga dijatuhi hukuman buang ke sebuah pulau yang terletak di laut utara Cirebon, yang jauhnya 40 hari perjalanan kaki.
Baca Juga: Perayaan Tahun Baru Imlek: Asal Usul Shio, Makna, dan Tujuannya
Setelah peristiwa ini, kemudian Sunan Gunung Jati menetapkan agar jangan lagi Para Pangeran menjadi Khotib Jumat di Kesultanan Cirebon.
Selepas dihukum buangnya Pangeran Jaya Kelana, tidak ada kabar lagi mengenainya
Bahkan dalam sumber-sumber sejarah Cirebon, Pangeran Jaya Kelana dianggap tidak mempunyai keturunan.
Demikianlah kisah Pangeran Jaya Kelana, yang akhirnya mendapatkan hukuman dari Sunan Gunung Jati ayahnya sendiri.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





