Jakarta

Sering Menunda Sarapan Berisiko Tingkatkan Risiko Kematian Dini Hingga 29 Persen? Begini Penjelasannya

Aisya Nur Aziza | 31 Agustus 2026, 09:04 WIB
Sering Menunda Sarapan Berisiko Tingkatkan Risiko Kematian Dini Hingga 29 Persen? Begini Penjelasannya
Sarapan sehat

AKURAT JAKARTA — Waktu pertama kali mengonsumsi makanan di pagi hari ternyata memegang peranan krusial bagi kesehatan tubuh.

Penelitian terbaru memperingatkan bahwa kebiasaan menunda sarapan hingga siang hari berkolerasi langsung dengan tingginya risiko penyakit kardiovaskular hingga penurunan angka harapan hidup.

Riset yang diterbitkan dalam European Journal of Clinical Nutrition mengungkapkan bahwa durasi dan penentuan waktu makan (eating window) dapat memengaruhi panjang usia seseorang secara signifikan.

Baca Juga: Waspada! 5 Sinyal Tubuh Saat Anda Sedang Berada dalam Mode Bertahan Hidup

Semakin Siang Jam Makan Pertama, Semakin Tinggi Risikonya

Studi ilmiah yang melibatkan lebih dari 31.000 responden berusia 40 tahun ke atas ini mengamati secara detail pencatatan waktu konsumsi kalori pertama hingga terakhir peserta.

Hasilnya menunjukkan adanya pola risiko kesehatan yang berbanding lurus dengan keterlambatan waktu sarapan.

Dibandingkan kelompok yang rutin sarapan pada rentang pukul 07.00–08.00 pagi, berikut tren peningkatan risikonya:

  • Makan Pertama Pukul 08.00–10.00: Risiko kematian dini dari berbagai penyebab naik sebesar 10 persen.

  • Makan Pertama Pukul 10.00–12.00: Risiko kematian dini meningkat hingga 19 persen.

  • Makan Pertama Lewat Pukul 12.00 Siang: Risiko kematian dini melonjak tajam mencapai 29 persen.

Tak hanya itu, keterlambatan mengonsumsi makanan pertama melebihi tengah hari juga mendongkrak risiko kematian akibat gangguan kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke hingga 46 persen.

Bagi peserta berusia di atas 50 tahun yang terbiasa makan terlalu siang, angka harapan hidup rata-rata tercatat berkurang hampir 2,5 tahun.

Bukan Hubungan Sebab-Akibat Langsung

Meskipun temuan ini memperkuat bukti bahwa faktor "kapan makan" sama pentingnya dengan "apa yang dimakan", para ahli mengimbau agar publik menyikapi hasilnya secara bijak.

Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya mengamati catatan pola makan responden dalam satu siklus 24 jam, tanpa memperhitungkan variabel lain seperti kualitas tidur dan tingkat aktivitas harian.

Penulis senior dalam studi tersebut, Zhilei Shan, meluruskan agar hasil riset ini tidak langsung diartikan bahwa menunda sarapan secara otomatis menjadi penyebab tunggal kematian.

"Makan lebih lambat sebaiknya dipandang sebagai penanda risiko potensial dan perilaku yang dapat diubah, bukan sebagai bukti definitif adanya hubungan sebab-akibat langsung," tegas Shan. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.