Jakarta

Kemenkes Temukan Banyak Anak SD Bergula Darah Tinggi, Awas Ancaman Penyakit Kronis Dimulai Sejak Kecil

Anggerhana Denni Rahmawati | 31 Juli 2026, 09:30 WIB
Kemenkes Temukan Banyak Anak SD Bergula Darah Tinggi, Awas Ancaman Penyakit Kronis Dimulai Sejak Kecil
Kasus gula darah tinggi pada anak meningkat. (Magnific)

AKURAT JAKARTA - Kasus tingginya kadar gula darah pada anak usia sekolah dasar mulai menjadi perhatian serius pemerintah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman penyakit tidak menular kini tidak lagi identik dengan orang dewasa, tetapi mulai terlihat sejak usia anak-anak.

Fenomena tersebut menjadi sinyal perubahan pola hidup yang patut diwaspadai.

Jika tidak segera dikendalikan, generasi yang saat ini masih duduk di bangku sekolah dasar berpotensi menghadapi risiko penyakit kronis lebih cepat ketika memasuki usia produktif.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan indikasi banyak anak SD memiliki kadar gula darah yang sudah berada di atas kisaran normal.

Temuan itu dinilai cukup mengkhawatirkan karena pada usia anak, kadar gula darah seharusnya masih berada dalam rentang normal mengingat aktivitas fisik mereka umumnya masih tinggi.

Menurut Nadia, kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk memperkuat kebijakan pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) di masyarakat.

Pasalnya, tanpa upaya pengendalian sejak dini, tren peningkatan penyakit tidak menular diperkirakan akan terus meningkat.

Kadar gula darah anak sendiri memiliki batas normal yang berbeda berdasarkan usia.

Anak di bawah enam tahun umumnya memiliki kadar gula sekitar 100–200 mg/dL, anak usia 6–12 tahun berkisar 70–150 mg/dL, sedangkan remaja di atas 12 tahun berada di bawah 140–180 mg/dL.

Baca Juga: BTS Memilih Absen dari Grammy 2027, Ada Pesan Besar di Balik Keputusan yang Mengejutkan

Meski demikian, meningkatnya jumlah anak dengan kadar gula darah tinggi menjadi tanda bahwa risiko gangguan metabolisme mulai muncul lebih awal dibandingkan generasi sebelumnya.

Yang paling mengkhawatirkan, dampaknya tidak selalu langsung terlihat.

Gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah secara perlahan sehingga meningkatkan risiko penyakit kronis ketika seseorang memasuki usia sekitar 40 tahun.

Risiko tersebut meliputi penyakit jantung, stroke, hingga gangguan ginjal.

Kerusakan pembuluh darah berlangsung bertahun-tahun tanpa gejala yang jelas sehingga sering kali baru diketahui setelah muncul komplikasi.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.