Kemenkes Temukan Banyak Anak SD Bergula Darah Tinggi, Awas Ancaman Penyakit Kronis Dimulai Sejak Kecil

AKURAT JAKARTA - Kasus tingginya kadar gula darah pada anak usia sekolah dasar mulai menjadi perhatian serius pemerintah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman penyakit tidak menular kini tidak lagi identik dengan orang dewasa, tetapi mulai terlihat sejak usia anak-anak.
Fenomena tersebut menjadi sinyal perubahan pola hidup yang patut diwaspadai.
Jika tidak segera dikendalikan, generasi yang saat ini masih duduk di bangku sekolah dasar berpotensi menghadapi risiko penyakit kronis lebih cepat ketika memasuki usia produktif.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan indikasi banyak anak SD memiliki kadar gula darah yang sudah berada di atas kisaran normal.
Temuan itu dinilai cukup mengkhawatirkan karena pada usia anak, kadar gula darah seharusnya masih berada dalam rentang normal mengingat aktivitas fisik mereka umumnya masih tinggi.
Menurut Nadia, kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk memperkuat kebijakan pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) di masyarakat.
Pasalnya, tanpa upaya pengendalian sejak dini, tren peningkatan penyakit tidak menular diperkirakan akan terus meningkat.
Kadar gula darah anak sendiri memiliki batas normal yang berbeda berdasarkan usia.
Anak di bawah enam tahun umumnya memiliki kadar gula sekitar 100–200 mg/dL, anak usia 6–12 tahun berkisar 70–150 mg/dL, sedangkan remaja di atas 12 tahun berada di bawah 140–180 mg/dL.
Baca Juga: BTS Memilih Absen dari Grammy 2027, Ada Pesan Besar di Balik Keputusan yang Mengejutkan
Meski demikian, meningkatnya jumlah anak dengan kadar gula darah tinggi menjadi tanda bahwa risiko gangguan metabolisme mulai muncul lebih awal dibandingkan generasi sebelumnya.
Yang paling mengkhawatirkan, dampaknya tidak selalu langsung terlihat.
Gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah secara perlahan sehingga meningkatkan risiko penyakit kronis ketika seseorang memasuki usia sekitar 40 tahun.
Risiko tersebut meliputi penyakit jantung, stroke, hingga gangguan ginjal.
Kerusakan pembuluh darah berlangsung bertahun-tahun tanpa gejala yang jelas sehingga sering kali baru diketahui setelah muncul komplikasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor Sevilla vs Rayo Vallecano di La Liga, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Meraih Kemenangan Perdana di Laga Pembuka?
- 2Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Getafe di La Liga, 16 Agustus 2026: Duel Dua Tim dengan Modal Pramusim Berbeda
- 3Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 4Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 7Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Mampukah The Yellow Canaries Raih Kemenangan di Kandang Sendiri?
- 8Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya






