Jakarta

Fatherless Bukan Sekadar Ayah Tak Ada, Psikologi Jelaskan Pentingnya Keterlibatan Ayah Sejak Anak Tumbuh

Anggerhana Denni Rahmawati | 13 Juli 2026, 16:15 WIB
Fatherless Bukan Sekadar Ayah Tak Ada, Psikologi Jelaskan Pentingnya Keterlibatan Ayah Sejak Anak Tumbuh
Kehadiran ayah saja tak cukup bagi anak.

AKURAT JAKARTA - Banyak orang menganggap seorang anak akan terhindar dari kondisi fatherless selama ayah masih tinggal serumah.

Padahal, dalam psikologi perkembangan, kehadiran fisik saja belum tentu cukup.

Anak juga membutuhkan ayah yang terlibat dalam kehidupan sehari-harinya, mulai dari bermain, mendengarkan cerita, mendampingi belajar, hingga menjadi teladan dalam bersikap.

Pandangan inilah yang sejalan dengan dorongan Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta yang mengajak calon pengantin pria mempersiapkan diri menjadi ayah bahkan sebelum menikah.

Menurut pemerintah, bekal pengetahuan tentang pola asuh perlu dimiliki sejak awal agar pasangan mampu membangun keluarga yang sehat dan mencegah anak tumbuh tanpa figur ayah yang berperan aktif.

Dalam psikologi, keterlibatan ayah diyakini memberi kontribusi terhadap perkembangan emosi, kemampuan bersosialisasi, rasa percaya diri, hingga pembentukan karakter anak.

Karena itu, peran ayah tidak berhenti pada memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga hadir dalam berbagai momen penting selama proses tumbuh kembang anak.

Persiapan tersebut dinilai perlu dimulai sejak sebelum membangun rumah tangga.

Dengan memahami pola pengasuhan dan membagi peran bersama pasangan, calon ayah diharapkan lebih siap menjalani tanggung jawab sebagai orang tua ketika anak lahir.

Pesan tentang pentingnya kehadiran ayah juga terlihat melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) yang digelar bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah.

Baca Juga: Gubernur Pramono Sebut SPMB DKI 2026/2027 Berjalan Lancar, Klaim Keluhan Publik Hampir Tidak Ada

=====

Kegiatan ini bukan sekadar mengantar anak ke gerbang sekolah, melainkan menjadi simbol bahwa ayah memiliki peran dalam perjalanan pendidikan dan kehidupan anak.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga memastikan lingkungan sekolah menjadi tempat yang aman bagi peserta didik.

Selama pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sekolah dilarang melakukan perpeloncoan, memungut biaya, memberikan kegiatan yang tidak berkaitan dengan tujuan MPLS, menggunakan atribut yang tidak edukatif, melibatkan alumni sebagai penyelenggara, maupun menjalankan kegiatan yang bertentangan dengan prinsip Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Pada akhirnya, membangun generasi yang sehat secara emosional tidak hanya menjadi tugas sekolah ataupun ibu.

Ayah juga memiliki peran yang sama pentingnya dalam menciptakan rasa aman, kasih sayang, dan dukungan yang dibutuhkan anak.

Kehadiran yang aktif sejak dini dapat menjadi salah satu fondasi bagi tumbuh kembang anak, baik di rumah maupun saat mereka mulai menapaki dunia pendidikan. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.