Jakarta

Sel Kanker Memang Suka Gula, Tapi Benarkah Gula Langsung Mempercepat Kanker?

Anggerhana Denni Rahmawati | 9 Juli 2026, 21:15 WIB
Sel Kanker Memang Suka Gula, Tapi Benarkah Gula Langsung Mempercepat Kanker?
Konsumsi gula harian harus diperhatikan.

AKURAT JAKARTA - Sel kanker dikenal sangat aktif menggunakan glukosa sebagai sumber energi sehingga sering disebut memiliki ketergantungan tinggi terhadap gula.

Temuan ini membuat banyak orang mengira bahwa setiap makanan manis yang dikonsumsi akan langsung mempercepat pertumbuhan kanker.

Padahal, para ilmuwan menjelaskan bahwa hubungan antara gula dan kanker jauh lebih kompleks daripada anggapan yang beredar.

Semua sel dalam tubuh manusia membutuhkan glukosa untuk menjalankan berbagai fungsi penting yang menopang kehidupan sehari-hari.

Sel otak, otot, jantung, dan organ lainnya juga memanfaatkan glukosa sebagai bahan bakar utama untuk menghasilkan energi.

Karena itu, tubuh tetap memerlukan asupan karbohidrat dan gula dalam jumlah yang seimbang agar dapat bekerja optimal.

Sel kanker memang menyerap glukosa lebih cepat dibandingkan sel normal karena pertumbuhannya berlangsung sangat agresif.

Kemampuan menyerap glukosa dalam jumlah besar membantu sel kanker memenuhi kebutuhan energi untuk berkembang dan bertahan hidup.

Meski demikian, makan gula tidak secara langsung mengubah sel sehat menjadi sel kanker di dalam tubuh seseorang.

Kanker umumnya muncul akibat perubahan genetik yang dipengaruhi berbagai faktor lingkungan, gaya hidup, dan kondisi biologis.

Hingga saat ini belum ada bukti bahwa konsumsi gula secara langsung menjadi penyebab utama terbentuknya kanker.

Anggapan bahwa menghentikan seluruh konsumsi gula dapat membuat kanker kelaparan juga tidak sepenuhnya benar.

Tubuh memiliki mekanisme alami untuk menjaga kadar glukosa darah tetap tersedia meskipun asupan gula dikurangi drastis.

Saat tidak mendapat gula dari makanan, tubuh akan memproduksi glukosa dari cadangan energi yang dimiliki.

Karena itu, sel kanker tetap dapat memperoleh energi meskipun seseorang menghentikan konsumsi gula tambahan sepenuhnya.

Baca Juga: Viral di Medsos, Kandang Ayam di Tengah Pemukiman Ciputat Diprotes Warga

=====

Yang perlu menjadi perhatian adalah pola makan tinggi gula yang berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang.

Konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan obesitas yang berkaitan dengan berbagai penyakit.

Obesitas diketahui menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko munculnya beberapa jenis kanker tertentu.

Selain itu, kadar gula darah yang sering tinggi dapat memicu peradangan kronis yang kurang baik bagi kesehatan tubuh.

Peradangan yang berlangsung lama dapat menciptakan lingkungan biologis yang mendukung perkembangan berbagai penyakit serius.

Risiko tersebut biasanya semakin besar jika pola makan tinggi gula disertai kurang aktivitas fisik dan kebiasaan tidak sehat.

Makanan ultra-proses yang kaya gula tambahan juga sering mengandung kalori tinggi tetapi rendah nilai gizi penting.

Kondisi ini dapat membuat kebutuhan vitamin, mineral, dan serat harian menjadi kurang terpenuhi dengan baik.

Para ahli kesehatan menyarankan masyarakat untuk tidak menghindari gula secara ekstrem tanpa alasan medis yang jelas.

Fokus utama sebaiknya diarahkan pada pola makan seimbang yang kaya sayur, buah, biji-bijian, dan protein berkualitas.

Karbohidrat sehat dari nasi, umbi, buah, dan kacang-kacangan tetap akan diubah menjadi glukosa oleh tubuh.

Karena itu, tujuan utamanya bukan menghilangkan gula sepenuhnya, melainkan menjaga konsumsi tetap dalam batas wajar.

Menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, dan membatasi gula tambahan menjadi langkah yang lebih bermanfaat.

Dengan pola hidup sehat yang konsisten, risiko berbagai penyakit kronis dapat ditekan tanpa perlu takut berlebihan pada gula.

Kesimpulannya, sel kanker memang menggunakan glukosa dalam jumlah besar, tetapi gula bukan penyebab langsung kanker dan keseimbangan tetap menjadi kunci kesehatan. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.