Waspada, Kenali Gejala Radang Usus Kronis yang Sering Dikira Sakit Maag

AKURAT JAKARTA — Waspada penyakit Radang Usus Kronis atau Inflammatory Bowel Disease (IBD), kondisi medis jangka panjang yang ditandai peradangan progresif pada dinding saluran pencernaan.
Sering kali, masyarakat keliru menyamakan IBD dengan Irritable Bowel Syndrome (IBS). Padahal, keduanya merupakan kondisi yang sangat berbeda.
IBS hanyalah gangguan fungsi pencernaan tanpa disertai luka, sedangkan IBD adalah penyakit serius yang menyebabkan kerusakan fisik hingga perdarahan pada usus.
Baca Juga: Ternyata Melindungi Ginjal Sama Dengan Menjaga Planet, Kenali 10 Gejala Gagal Ginjal Sejak Dini
Demikian disampaikan Konsultan Gastroenterologi Hepatologi Eka Hospital MT Haryono, Prof Dr dr Murdani Abdullah, Sp.PD-KGEH, FINASIM, FACG, FASGE.
Dia menjelaskan jika seseorang sering mengalami gangguan pencernaan yang tidak kunjung sembuh dengan obat maag atau obat diare biasa, maka perlu diwaspadai adanya indikasi IBD.
Secara medis, IBD dikelompokkan menjadi dua jenis utama berdasarkan lokasi dan kedalaman peradangannya:
1. Kolitis Ulseratif (Ulcerative Colitis): Peradangan kronis yang hanya terjadi pada lapisan usus besar dan rektum, dengan ciri khas munculnya luka terbuka secara merata yang memicu perdarahan terus-menerus.
2. Penyakit Crohn (Crohn's Disease): Peradangan yang dapat menyerang bagian mana pun dari saluran pencernaan, mulai dari mulut hingga anus, serta dapat menembus seluruh ketebalan dinding usus secara acak.
Gejala Utama dan Faktor Risiko
Peradangan yang merusak dinding usus akan memicu gejala menetap yang mengganggu aktivitas harian.
Prof Murdani mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri jika mengalami gejala-gejala utama seperti diare kronis (buang air besar cair lebih dari dua minggu disertai darah, lendir, atau nanah), nyeri atau kram perut yang intens setelah makan, penurunan berat badan drastis tanpa diet, mudah lelah, serta demam ringan yang kerap muncul.
Hingga saat ini, penyebab pasti IBD belum diketahui. Namun, para ahli memastikan kondisi ini melibatkan gangguan sistem kekebalan tubuh (autoimun), di mana imun tubuh justru menyerang sel-sel sehat di saluran pencernaan sendiri secara agresif.
Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan potensi seseorang mengidap IBD antara lain:
Riwayat genetik: Memiliki anggota keluarga inti dengan penyakit serupa.
Faktor usia: Mayoritas kasus pertama kali terdiagnosis pada usia muda (15–30 tahun).
Gaya hidup: Kebiasaan merokok, konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, dan tingkat stres tinggi.
Obat antinyeri: Penggunaan obat pereda nyeri golongan NSAID (seperti ibuprofen atau diklofenak) yang terlalu sering hingga mengikis lapisan pelindung usus.
Komplikasi Fatal dan Metode Pengobatan
Menunda pengobatan IBD dapat menyebabkan komplikasi fatal yang mengancam nyawa. Komplikasi tersebut meliputi penyumbatan usus akibat penebalan jaringan parut, terbentuknya saluran abnormal (fistula), robek atau bocornya dinding usus (perforasi usus), hingga peningkatan risiko kanker usus besar pada pasien Kolitis Ulseratif jangka panjang.
Meskipun IBD merupakan penyakit jangka panjang yang belum bisa disembuhkan secara total, penanganan medis yang tepat dapat menekan peradangan secara signifikan hingga pasien mencapai fase bebas gejala (remisi).
Langkah penanganan yang dapat dilakukan meliputi terapi obat-obatan (antiradang, kortikosteroid, imunosupresan, atau terapi biologis mutakhir), pengaturan pola makan secara ketat bersama ahli gizi untuk menghindari iritasi usus, serta tindakan bedah sebagai pilihan terakhir jika terjadi komplikasi serius.
Penanganan sejak dini melalui prosedur diagnostik modern seperti kolonoskopi sangat krusial untuk menyelamatkan jaringan usus dari kerusakan permanen.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Mampukah The Yellow Canaries Raih Kemenangan di Kandang Sendiri?
- 2Prediksi Skor Levski Sofia vs AEK Athens di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Momentum Tuan Rumah Jadi Ancaman Juara Liga Yunani
- 3Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 4Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Tuan Rumah Punya Rekor Impresif
- 7Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 8Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!




