Jakarta

Mikroplastik di Udara dan Hujan, Ancaman Baru bagi Kesehatan Masyarakat Perkotaan

Zainal Abidin | 28 Januari 2026, 17:00 WIB
Mikroplastik di Udara dan Hujan, Ancaman Baru bagi Kesehatan Masyarakat Perkotaan

AKURAT JAKARTA - Hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional mengungkap bahwa air hujan di Jakarta telah tercemar mikroplastik dari aktivitas manusia perkotaan.

Temuan ini menandai bahwa pencemaran plastik tidak lagi terbatas di laut dan tanah, tetapi juga telah menyusup ke atmosfer.

Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang sangat sulit terurai di alam dan mudah tersebar luas. 

Baca Juga: Mengapa Obat Diare Tidak Selalu Dianjurkan Saat Mengalami Mencret

Partikel kecil ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara, makanan, minuman, bahkan lewat kontak langsung dengan kulit.

Berdasarkan sumbernya, mikroplastik terbagi menjadi mikroplastik primer dan mikroplastik sekunder yang berasal dari proses berbeda.

Mikroplastik primer sengaja diproduksi untuk kosmetik, deterjen, sabun, serta serat pakaian sintetis yang sering digunakan sehari-hari.

Baca Juga: GERD dan Penyakit Jantung, Mirip Gejala Namun Berbeda Penyebab

Sementara itu, mikroplastik sekunder berasal dari penguraian sampah plastik sekali pakai yang terpapar panas dan gesekan lingkungan.

Di Indonesia, mikroplastik telah ditemukan di laut, sedimen sungai, terumbu karang, hingga di dalam perut ikan konsumsi manusia.

Kondisi ini memicu kekhawatiran serius karena mikroplastik berpotensi menumpuk di tubuh dan memicu gangguan kesehatan jangka panjang.

Baca Juga: Memahami Perbedaan Miom dan Kista, Gejala Dampak hingga Penanganannya

Paparan mikroplastik pada kulit dapat menyebabkan iritasi, terutama pada individu yang memiliki kulit sensitif atau riwayat alergi.

Kandungan bahan kimia pada partikel plastik dapat memicu peradangan serta reaksi alergi setelah kontak berulang dalam waktu lama.

Mikroplastik yang terhirup dari udara dapat mengiritasi saluran pernapasan dan merusak jaringan paru secara perlahan.

Baca Juga: Tangga Ikonik Gunung Galunggung, Tantangan Ringan dengan Panorama Kawah Memikat

Jika paparan terus berlangsung, risiko asma, penyakit paru obstruktif kronik, hingga kanker paru dapat meningkat signifikan.

Melalui makanan dan minuman, mikroplastik dapat merusak dinding usus dan memicu peradangan pada saluran pencernaan.

Endapan mikroplastik juga diduga dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik yang berperan penting dalam imunitas tubuh.

Baca Juga: 3 Event di Jakarta Bulan Februari 2026 yang Paling Dinantikan

Gangguan pencernaan akibat mikroplastik berpotensi menurunkan daya tahan tubuh karena sebagian besar sel imun berada di usus.

Penelitian juga mengaitkan paparan mikroplastik dengan risiko gangguan metabolisme akibat gangguan sistem hormon tubuh.

Kandungan zat seperti bisphenol A dan phthalates dalam plastik dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Baca Juga: Lollipop Fest Vol. 01, Piknik Musik Estetik di De Tjolomadoe Jawa Tengah 

Bahkan, penelitian menunjukkan individu dengan plak mikroplastik di pembuluh darah lebih rentan terkena penyakit kardiovaskular.

Paparan mikroplastik juga dikaitkan dengan kerusakan DNA yang dapat meningkatkan risiko terjadinya mutasi genetik dan kanker.

Meski sulit dihindari sepenuhnya, masyarakat tetap dapat mengurangi risiko dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Baca Juga: De Tjolomadoe, Napak Tilas Pabrik Gula Bersejarah yang Berubah Jadi Ikon Wisata Modern 

Membawa botol minum pribadi, memilih produk ramah lingkungan, serta menggunakan transportasi umum menjadi langkah sederhana yang berdampak. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.