Memahami Perbedaan Miom dan Kista, Gejala Dampak hingga Penanganannya

AKURAT JAKARTA — Miom dan kista merupakan dua kondisi kesehatan reproduksi yang kerap menjadi kekhawatiran bagi kaum wanita.
Meski mayoritas bersifat jinak, keduanya berpotensi memengaruhi kualitas hidup dan kesuburan jika tidak mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Dokter Spesialis Kandungan Eka Hospital BSD, dr. Budi Santoso, Sp.OG, FMAS, menjelaskan bahwa pemahaman mengenai perbedaan kedua kondisi ini sangat penting untuk deteksi dini.
Baca Juga: Waspada Influenza pada Anak, Kenali Gejala, Pencegahan dan Batas Kritis Kapan Harus ke Dokter
Menurutnya, miom atau fibroid rahim adalah pertumbuhan jaringan otot di dinding rahim yang bersifat padat. Sebaliknya, kista merupakan kantong berisi cairan yang umumnya terbentuk di ovarium atau indung telur.
Faktor Risiko dan Gejala yang Patut Diwaspadai
Penyebab pasti miom hingga kini belum diketahui secara medis, namun diduga kuat berkaitan dengan faktor hormon estrogen dan progesteron.
Beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai antara lain obesitas, riwayat keluarga, serta menstruasi dini.
Sementara itu, kista ovarium sering kali terbentuk secara alami selama siklus ovulasi, namun bisa juga dipicu oleh kondisi seperti endometriosis atau Polycystic Ovary Syndrome (PCOS).
Baca Juga: Ekspansi di MT Haryono, Eka Hospital Group Perkuat Layanan Kesehatan Premium
Banyak pasien tidak menyadari keberadaan miom atau kista karena sering kali tidak menunjukkan gejala pada ukuran kecil. Gejala biasanya baru terasa saat ukuran mulai membesar, di antaranya:
Gejala Miom: Perdarahan di luar siklus haid, nyeri haid hebat, perut bawah membuncit, serta sering buang air kecil.
Gejala Kista: Nyeri panggul atau punggung bawah, perut terasa penuh, dan siklus menstruasi yang tidak teratur.
Dampak terhadap Kesuburan dan Kehamilan
Budi menekankan bahwa kedua kondisi ini memiliki pengaruh berbeda terhadap kesehatan reproduksi.
"Miom jarang menyebabkan infertilitas secara langsung, namun dapat memicu komplikasi pada kehamilan seperti hambatan pertumbuhan janin atau kelahiran prematur," ujarnya pada Selasa (27/1/2026).
Di sisi lain, kista yang terkait dengan PCOS dapat menurunkan peluang kehamilan karena mengganggu proses pematangan sel telur. Oleh karena itu, pemeriksaan panggul rutin dan menjaga berat badan ideal menjadi langkah penting dalam mitigasi risiko.
Kapan Harus Berkonsultasi?
Masyarakat diimbau untuk segera melakukan konsultasi medis jika mengalami nyeri perut atau panggul yang menetap, perdarahan tidak wajar, atau perut membuncit secara tidak normal.
Budi menegaskan bahwa penanganan medis tidak selalu berakhir di meja operasi.
"Penanganan tidak selalu berupa operasi. Pemantauan rutin dan pengobatan sesuai kondisi pasien sering kali sudah cukup. Kunci utamanya adalah deteksi dini," pungkas dr. Budi Santoso. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









