6 Cara Minum Tablet Tambah Darah yang Benar bagi Remaja, Pesan Dokter Anak untuk Cegah Anemia

AKURAT JAKARTA - Dokter anak menegaskan pentingnya konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) dengan cara yang benar, terutama bagi remaja putri yang rentan mengalami anemia defisiensi besi (ADB).
Masalah ini dapat mengganggu kesehatan, pertumbuhan, hingga prestasi belajar jika tidak ditangani secara tepat.
Dilansir dari Antara, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hematologi Onkologi, Prof. Dr. dr. Harapan Parlindungan Ringoringo, Sp.A, Subsp.H.Onk (K), mengatakan, "Banyak sekali cara meminum obatnya, tapi ini (di lapangan) tidak tepat, kami berharap tidak terjadi ADB, tapi tetap terjadi ADB."
Enam Cara Benar Minum Tablet Tambah Darah
Ringo menjelaskan, cara pertama adalah minum TTD satu tablet setiap minggu.
Program ini sudah dijalankan pemerintah dan menyasar remaja putri tingkat SMP serta SMA.
Kedua, konsumsi satu tablet setiap hari sejak datang bulan hingga selesai haid. “Begitu seterusnya, kalau seminggu haidnya, kita beri 7 tablet tambah darah,” ujarnya.
Ketiga, TTD sebaiknya diminum dua jam sebelum atau sesudah makan, dengan waktu terbaik sebelum makan agar penyerapannya optimal.
Baca Juga: Catat! Rang Solok Baralek Gadang 2025 Digelar 11–13 September, Berikut Rangkaian Acaranya
Keempat, jangan minum TTD bersamaan dengan susu, teh, kopi, atau obat maag.
"Bukan tidak boleh minum susu, bahwa tidak boleh minum teh atau kopi, tapi jangan bersamaan dengan bahan makanan yang banyak mengandung zat besi," tambahnya.
Kelima, konsumsi TTD bersama buah kaya vitamin C seperti jeruk, pisang, atau pepaya agar penyerapannya meningkat.
Keenam, bagi remaja yang sering merasa mual setelah minum TTD, waktu konsumsi bisa digeser menjadi menjelang tidur untuk meminimalkan keluhan tersebut.
Dampak Anemia pada Remaja
Menurut Ringo, masa remaja adalah fase dengan perubahan cepat pada tinggi badan, perkembangan organ reproduksi, hingga aspek psikososial.
Kondisi ini membuat kebutuhan zat besi meningkat dibandingkan usia anak-anak.
Remaja yang mengalami anemia biasanya menunjukkan gejala 5L: lelah, letih, lemah, lesu, dan lalai.
Selain itu, bisa timbul sakit kepala, pusing, mata berkunang, mudah mengantuk, serta sulit berkonsentrasi.
Jika dibiarkan, dampaknya dapat berupa penurunan fungsi kognitif, pertumbuhan terhambat, penurunan daya tahan tubuh, hingga melemahkan kemampuan fisik dalam aktivitas sehari-hari.
Penutup
IDAI bersama para dokter anak menekankan bahwa pencegahan anemia pada remaja putri harus dimulai dari kebiasaan konsumsi TTD yang benar.
Dengan enam langkah sederhana ini, risiko anemia defisiensi besi bisa ditekan sehingga generasi muda tumbuh sehat, cerdas, dan produktif. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







