Fakta Mengejutkan Ghosting, Dari Takut Komitmen hingga Terlalu Banyak Pilihan

AKURAT JAKARTA - Fenomena ghosting, atau tindakan menghilang tiba-tiba tanpa memberikan penjelasan dalam sebuah hubungan, semakin marak di era digital.
Meskipun terkesan sepele, perilaku ini memiliki akar psikologis dan emosional yang cukup dalam.
Apa sebenarnya alasan seseorang melakukan ghosting?
Baca Juga: Pramono Anung Buka FJGS 2025: Jakarta Siap Jadi Surga Belanja
Menurut Kamil Lewis, seorang terapis hubungan, salah satu pemicunya adalah rasa takut menghadapi konflik.
"Banyak orang yang lebih memilih menghindar daripada harus menghadapi percakapan tidak nyaman saat mengakhiri hubungan," ujarnya, dikutip dari Cosmopolitan, Rabu (11/6/2025).
Ia menjelaskan bahwa sebagian individu bahkan menganggap ghosting sebagai jalan keluar yang lebih ‘ramah’ dibanding konfrontasi langsung.
Faktor lainnya adalah rendahnya keterampilan komunikasi.
Banyak orang merasa kesulitan mengekspresikan perasaan mereka secara jelas, terutama ketika hubungan tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Hal ini membuat mereka cenderung menghilang begitu saja daripada menyampaikan perpisahan secara terbuka.
Kemudahan dalam mencari pasangan melalui aplikasi kencan dan media sosial juga berperan besar.
Niloo Dardashti, PhD, seorang psikolog hubungan, menyoroti bahwa banyaknya pilihan membuat seseorang mudah beralih perhatian.
“Bisa saja seseorang memiliki perasaan di awal, tetapi kemudian merasa kewalahan karena terlalu banyak pilihan,” jelasnya.
Baca Juga: Meningkatkan Keamanan Pendakian, Gunung Merbabu Terapkan Sistem Gelang RFID
Tak jarang, pelaku ghosting merasa tak perlu memberi penjelasan jika hubungan dinilai belum cukup dalam.
Pandangan ini menciptakan persepsi bahwa menghilang tanpa kabar adalah hal yang bisa diterima.
Sebagian lainnya merasa belum siap menjalin hubungan serius, meski awalnya menunjukkan antusiasme.
“Mungkin orang tersebut memang belum siap menjalin hubungan, atau tiba-tiba ada orang lain yang lebih menarik perhatiannya,” tambah Lewis.
Parahnya lagi, karena ghosting telah menjadi fenomena umum, beberapa orang mulai menganggapnya sebagai hal yang wajar.
Padahal, tindakan ini bisa menimbulkan dampak psikologis serius pada korban, terutama mereka yang memiliki luka emosional di masa lalu. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







