Jakarta

Mengenal Asal Usul Kerak Telor, Simak 3 Fakta Menarik dari Kuliner Khas Betawi

Ani Nur Iqrimah | 8 Mei 2024, 15:10 WIB
Mengenal Asal Usul Kerak Telor, Simak 3 Fakta Menarik dari Kuliner Khas Betawi

AKURAT JAKARTA - Kerak Telor adalah salah satu jenis makanan khas Betawi yang terkenal di Jakarta, Indonesia.

Makanan ini merupakan sejenis martabak telur yang terbuat dari campuran beras ketan, telur ayam, ebi (udang kering), dan bumbu-bumbu rempah-rempah.

Kerak Telor memiliki cita rasa yang unik dan gurih, disajikan dengan taburan bawang merah goreng dan cabai rawit hijau sebagai pelengkap.

Baca Juga: Inilah 5 Alasan Mengapa Hotel Neo Menjadi Brand yang Disukai oleh Milenial, Simak Selengkapnya di Sini

Proses pembuatan Kerak Telor melibatkan penggorengan dengan menggunakan wajan datar atau wajan khusus yang disebut "dulang".

Adonan beras ketan dan telur dicampur dengan bumbu-bumbu serta ebi yang telah dihaluskan, kemudian digoreng hingga matang dengan api kecil.

Setelah matang, permukaan Kerak Telor biasanya dilapisi dengan taburan bawang merah goreng dan cabai rawit hijau untuk memberikan aroma dan rasa yang lebih kaya.

Baca Juga: UPDATE! Daftar 25 Daerah yang Telah Mengumumkan Formasi CPNS dan PPPK Tahun 2024, Simak Selengkapnya di Sini

Kerak Telor sering dijadikan sebagai camilan atau hidangan khas saat perayaan tertentu, seperti pada perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia atau acara-acara festival kuliner.

Makanan ini merupakan bagian penting dari warisan kuliner Betawi yang kaya akan cita rasa dan tradisi.

Sejarah Kerak Telor berkaitan erat dengan perkembangan kota Jakarta, terutama dengan budaya dan tradisi masyarakat Betawi yang mendiami wilayah tersebut.

Baca Juga: Tingkatkan Popularitas dan Dengarkan Suara Rakyat, Zaki Iskandar Makin Sering Blusukan ke Berbagai Kawasan di Jakarta

Meskipun tidak ada catatan tertulis yang pasti tentang asal-usulnya, Kerak Telor diyakini telah ada sejak zaman kolonial Belanda.

Hingga kini, Kerak Telor terus berkembang menjadi salah satu makanan khas yang ikonik bagi masyarakat Betawi.

Berikut ini 3 fakta menarik dari kuliner Betawi Kerak Telor:

Baca Juga: Resep Ayam Goreng Serundeng Khas Cirebon yang Gurih dan Lezat, Bisa Dicoba Masak Sendiri di Rumah

1. Makanan Pedagang Keliling

Salah satu versi menyatakan bahwa Kerak Telor pertama kali dibuat oleh pedagang keliling di Jakarta pada masa kolonial Belanda.

Mereka menggunakan beras ketan dan telur untuk membuat makanan praktis yang bisa dijual kepada masyarakat, terutama di pasar-pasar tradisional atau acara keramaian.

Baca Juga: Daftar 10 Formasi CPNS 2024 di Kemendikbud Ristek untuk S1 Pendidikan, Lengkap dengan Syarat, Cara dan Link Pendaftaran

2. Makanan untuk Pejabat Belanda

Menurut beberapa cerita, Kerak Telor awalnya dibuat sebagai hidangan istimewa untuk para pejabat Belanda.

Para juru masak Betawi menciptakan makanan ini dengan memadukan bahan-bahan lokal seperti beras ketan, telur, dan ebi untuk memuaskan lidah para tuan tanah.

Baca Juga: FANTASTIS! 300 Pemain Biola Bakal Unjuk Kebolehan di Jogja Violin Fest 2024, Catat Lokasi dan Tanggalnya

3. Tradisi Pernikahan

Kerak Telor juga terkait dengan tradisi pernikahan masyarakat Betawi. Dalam acara pernikahan tradisional Betawi, Kerak Telor sering disajikan sebagai hidangan utama atau camilan untuk para tamu undangan.

Seiring berjalannya waktu, Kerak Telor menjadi semakin populer di kalangan masyarakat Betawi dan dianggap sebagai bagian penting dari warisan kuliner tradisional mereka.

Baca Juga: CATAT! Nadin Amizah, Danilla hingga The Panturas Bakal Meriahkan SoundsFest Experience di Kuningan City, Cek Tanggal dan Harga Tiketnya

Makanan ini tidak hanya memiliki cita rasa yang khas, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya bagi masyarakat Betawi dan merupakan warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Hari ini, Kerak Telor tetap menjadi salah satu hidangan yang paling dicari di Jakarta, baik sebagai makanan sehari-hari maupun dalam acara-acara spesial dan festival kuliner.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.