Masa Kejayaan Kesultanan Cirebon, Sunan Gunung Jati Taklukan Kerajaan Pajajaran

AKURAT JAKARTA - Kesultanan Cirebon di bawah kepemimpinan Sunan Gunung Jati terlibat pertempuran dengan Pajajaran.
Sunan Gunung Jati keluarkan semua strategi perang yang dimilikinya untuk bisa menaklukan Pajajaran.
Kesultanan Cirebon bermula ketika Sunan Gunung Jati menjadi Sultan Cirebon pada 1479 M.
Baca Juga: One Piece! Berikut 3 Karakter yang Mampu Membaca Naskah Poneglyph, Ada Nico Robin!
Pada saat itu, Cirebon hanyalah bagian dari Kerajaan Pajajaran, Sebelum Sunan Gunung Jati dinobatkan menjadi Sultan.
Pangeran Walang Sungsang yang merupakan uwa dari Sunan Gunung Jati yang saat itu memerintah di Cirebon.
Dilansir Akurat Jakarta dari kanal YouTube Bung Fei tentang Masa Kejayaan Kesultanan Cirebon.
Baca Juga: Sunan Gunung Jati, Amalan Datangkan Rejeki Berlimpah, Dagangan Bisa Laris Manis Cepat Habis.
Sunan Gunung Jati memimpin Kesultanan Cirebon sejak tahun 1479 hingga 1568 Masehi.
Meskipun demikian dari tahun 1495 Sunan Gunung Jati telah menyerahkan urusan pemerintahan pada keturunannya.
Sunan Gunung jati telah mengangkat Raja Muda atau Adipati Anom dan beberapa orang yang ditunjuk sebagai penggantinya
Pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati, Kesultanan Cirebon berhasil mencapai puncak kejayaannya.
Pada masa itu pula, Sunan Gunung Jati banyak membangun infrastruktur yang berkaitan dengan kepentingan kerajaan.
Adapun bangunan yang berhasil dibangun Sunan Gunung Jati kala itu seperti :
1. Perluasan Keraton yang sebelumnya telah ada sejak masa Pangeran Walangsungsang.
2. Membangun Masjid Keraton serta Benteng yang mengelilingi Kota Cirebon dilengkapi dengan gerbang penjagaan
Pada tahun, 1526-1527, Kesultanan Cirebon membantu Kesultanan Demak melakukan penaklukan atas Banten dan Sunda Kelapa.
Baca Juga: My Fest – My Childhood Dream Bersama JKT48 di Pemuda City Walk Pekanbaru, Catat Tanggalnya
Hal ini bertujuan untuk menggagalkan kerjasama antara Pajajaran dan Portugis yang hendak membangun Benteng di Sunda Kelapa.
Penaklukan Cirebon dan Demak pada Banten dan Sunda Kelapa dipimpin oleh Raden Fatahillah.
Raden Fatahillah kala itu Panglima Perang Kesultanan Demak asal Pasai yang juga merupakan menantu Sunan Gunung Jati.
Baca Juga: Simak Prediksi 12 Shio Jelang Imlek 2024 yang Masuk ke Tahun Naga Api (Part 1)
Selepas invasi yang dilakukan Cirebon dan Demak atas Banten dan Sunda Kelapa, Cirebon terlibat peperangan dengan Kerajaan Pajajaran.
Dari peperangan tersebut hingga tahun 1530 Masehi berdampak pada perluasan kekuasaan Kesultanan Cirebon.
Daerah bawahan Pajajaran di wilayah timur kerajaan itu, seperti Galuh, Sindangkasih, Rajagaluh menjadi kekuasaan Kesultanan Cirebon.
Baca Juga: Simak Jadwal Tayang Anime One Piece Bulan Februari 2024, Ada Scene Menarik
Pada 12 Juni 1531, demi menghindari kekalahan yang lebih dalam, Pajajaran mengajukan gencatan senjata
Pajajaran kala itu dipimpin oleh Prabu Sura Wisesa, ia mengajukan penghentian perang dengan Kesultanan Cirebon.
Prabu Sura Wisesa mengirimkan surat kepada Sunan Gunung Jati untuk ajakan damai.
Ajakan damai dari Prabu Sura Wisesa diterima Sunan Gunung Jati dengan baik dan akhirnya memutuskan berdamai
Setelah perdamaian itu, tidak ada lagi perang diantara kedua kerajaan, antara kesultanan Cirebon dan Pajajaran.
Daerah-daerah wilayah kerajaan Pajajaran yang telah menjadi bagian Cirebon, akhirnya disepakati oleh kedua kerajaan menjadi bagian dari Kesultanan Cirebon.
Dikisahkan pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat, tepat diusia yang ke 120 tahun.
Itulah masa-masa keemasan Kesultanan Cirebon saat dipimpin Sunan Gunung Jati dibantu panglima perangnya Raden Fatahillah, Wallahu a'lam bishawab. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





