Jakarta

Sosok KH Buya Syakur Yasin, Sahabat Gus Dur dan Prof Quraish Shihab yang Pilih Kembangkan Islam di Kampung

Ainun Kusumaningrum | 17 Januari 2024, 09:41 WIB
Sosok KH Buya Syakur Yasin, Sahabat Gus Dur dan Prof Quraish Shihab yang Pilih Kembangkan Islam di Kampung

AKURAT JAKARTA - Berikut sosok KH Buya Syakur Yasin yang wafat hari ini, sahabat Gus Dur dan Prof Quraish Shihab, pilih kembangkan Islam di kampung.

Buya Syakur Yasin wafat pada Rabu (17/1/2024) pukul 02.00 WIB dinihari tadi di Rumah Sakit Mitra Plumbon, Cirebon.

Buya Syakur Yasin kurang lebih 20 tahun mengenyam pendidikan akademik di Timur Tengah dan Eropa.

Baca Juga: Ulama Rendah Hati KH Buya Syakur Yasin Wafat, Ucapan Duka Cita dari Non Muslim di Medsos

Pada tahun 1991 Buya Syakur Yasin kembali ke Indonesia.

Brsama dengan Gus Dur, Prof Quraish Shihab, Nurcholis Madjid dan Alwi Shihab, mereka membentuk Forum Empati Club.

Buya Syakur, adalah seorang ulama dan pendiri Pondok Pesantren Cadangpinggan Indramayu.

Baca Juga: Kabar Duka, KH Buya Syukur Yasin, Ulama Kharismatik Asal Indramayu Wafat Hari Ini

Beliau memilih hidup di kampung dengan mengembangkan syiar Islam lewat pondok pesantren, dibanding hidup di kota.

Buya Syakur dilahirkan di Kertasemaya, Indramayu pada 2 Februari 1948 dari pasangan KH. Moh Yasin Ibrohim dan Nyai Hj. Zaenab.

Masa kecil Buya Syakur menghabiskan waktunya di lingkungan pondok pesantren.

Baca Juga: Jangan Lupa! Hari Ini Konser Gratis Denny Caknan 17 Januari 2024 di Jepara, Catat Lokasinya di Sini

Beliau menyelesaikan pendidikan dasar di SD Darul Hikam Cirebon.

Pada 1960, Buya diminta secara pribadi oleh KH Sanusi, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, untuk tinggal di pesantren.

KH Sanusi adalah salah satu guru dari ayahanda Buya Syakur.

Selama kurang lebih 12 tahun, beliau secara intensif menggali pengetahuan keagamaan di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.

Buya Syakur menamatkan MTS pada tahun 1963, PGA 1966 dan SPIAIN 1969.

Kemudian melanjutkan mengaji pada kiai Rumli di Tegalgubug untuk memperdalam ilmu mantiq dan balaghoh sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.

Setelah selesai menempuh pendidikan di pondok pesantren Babakan Ciwaringin dan Tegalgubug, beliau melanjutkan pendidikan di Timur Tengah melalui jalur beasiswa pada tahun 1971.

Irak adalah negara pertama yang beliau tuju. Selama di Irak, beliau bersama Muzammil Basyuni, Irfan Zidni, Kyai Masyhuri, Munzir Tamam.

Pada 1972, beliau melanjutkan pendidikan di Syria kemudian diangkat menjadi ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Syria.

Dalam menyelesaikan S1, beliau menulis karya tentang Kritik Sastra Objektif Terhadap Karya-karya Yusuf As-Siba'i (Novelis Mesir).

Setelah menyelesaikan studi di Syria, beliau melanjutkan ke Lybia, belajar di Fakultas Sastra jurusan sastra Arab.

Serta mendalami ilmu Alquran dari tahun 1977 sampai tahun 1979 dan selama belajar, beliau diangkat jadi ketua PPI Lybia.

Pada tahun 1979 sampai tahun 1981, beliau menyelesaikan studi sastra Linguistik di Tunisia.

Setelah menyelesaikan studi di Tunisia, beliau melanjutkan studinya di London dan menyelesaikan Ilmu Metodologi dan Dialog Teatris pada tahun 1985.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.