Jakarta

Sampah di Pasar Induk Kramat Jati Capai 200 Ton Per Hari, Komisi B DPRD DKI Minta Sistem Pengolahan Berbasis Pupuk Dipercepat

Laode Akbar | 26 Februari 2026, 16:08 WIB
Sampah di Pasar Induk Kramat Jati Capai 200 Ton Per Hari, Komisi B DPRD DKI Minta Sistem Pengolahan Berbasis Pupuk Dipercepat
Pengolahan sampah berbasis pupuk.

AKURAT JAKARTA - Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Nova Harivan Paloh, menyoroti persoalan besarnya volume sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, yang mencapai 200 ton per hari.

Menurutnya, kondisi ini mengharuskan adanya terobosan pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan, termasuk percepatan rencana pengolahan berbasis pupuk.

Nova menyampaikan bahwa selama ini pengelolaan sampah di Pasar Induk masih menjadi persoalan yang berulang.

Baca Juga: Siap-siap BI Buka Penukaran Uang Baru Lebaran Periode 2, Ini Jadwal dan Cara Pesannya

Saat melakukan kunjungan, bahkan ia melihat langsung kondisi yang dinilainya memprihatinkan.

"Kita mengelola 200 ton per hari di Pasar Induk Kramat Jati. Ini angka yang besar, dan pengelolaannya harus benar-benar matang," tegas Nova kepada wartawan, Kamis (26/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa Perumda Pasar Jaya sudah memaparkan rencana pembangunan fasilitas pengelolaan sampah dengan nilai investasi sekitar Rp 1,5 miliar.

Salah satu konsep yang disiapkan adalah pemrosesan sampah organik menjadi pupuk, yang dinilai dapat mengurangi beban pembuangan ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi.

Baca Juga: Film Animasi Jumbo Berjaya di Korsel, Salip Nominasi Oscar di Box Office

Namun demikian, Nova menekankan bahwa rencana tersebut harus dijalankan secara hati-hati dan memenuhi seluruh aspek lingkungan.

"Pengelolaan sampah berbasis pupuk ini langkah baik, tapi AMDAL harus jadi prioritas. Residu dan seluruh prosesnya harus aman," ujarnya.

Politikus NasDem itu juga mengingatkan agar teknologi tambahan seperti insinerator tidak menimbulkan gangguan bagi konsumen maupun pedagang yang beraktivitas di dalam pasar.

Komisi B DPRD DKI Jakarta, kata Nova, akan terus mendalami detail program pengelolaan sampah tersebut, termasuk pengurangan retribusi, penambahan armada angkut, serta koreksi atas teguran yang sebelumnya diberikan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta terkait pelaksanaan aturan lingkungan.

Baca Juga: Strategi Antimacet Mudik 2026, Cek Jadwal One Way, Contraflow dan Ganjil-Genap di Tol

Ia berharap pengelolaan sampah berbasis pupuk bisa menjadi solusi jangka panjang bagi Pasar Induk Kramat Jati, sekaligus meningkatkan kebersihan, kenyamanan, dan kualitas pelayanan bagi pedagang dan konsumen. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.