URC Bergerak, Suarakan Tiga Tuntutan Ojol kepada Pemerintah: Soal Perppu hingga Dukung Potongan 20 Persen

AKURAT JAKARTA – Unit Reaksi Cepat (URC), sebuah wadah pengemudi ojek online (ojol) yang lahir dari keprihatinan terhadap nasib rekan-rekan mereka di jalanan, resmi menyuarakan Tiga Tuntutan Rakyat Aspal (Tritura).
Gerakan ini diklaim murni dari aspirasi akar rumput, bukan agenda politik pihak tertentu.
Jenderal Lapangan URC Bergerak, Achsanul Solihin, yang akrab disapa Bang Batman, menegaskan bahwa aksi ini muncul dari keresahan nyata para pengemudi.
Baca Juga: Koalisi Ojol Nasional dan DPR Tolak Konvensi ILO, Tegaskan Status Ojol Sebagai Mitra
"Kami bukan buruh, kami mitra mandiri. Kami menolak regulasi yang memaksa pengemudi masuk dalam sistem kerja subordinatif. Sudah cukup kami diam, sekarang kami bicara," kata Achsanul di Jakarta, Selasa (15/7/2025).
Menurut Achsanul, URC terbentuk karena keprihatinan melihat banyak pengemudi ojol yang mengalami kecelakaan tanpa perlindungan dan perhatian yang memadai. Seiring waktu, jumlah pengemudi ojol terus bertambah, memicu semakin banyak yang bergabung dalam barisan URC.
"Di jalan, kita semua saudara. Kami tahu betul bagaimana kerasnya hidup di balik jaket dan helm," imbuhnya.
Baca Juga: Lokasi Pemindahan Patung MH Thamrin Masih Dipertimbangkan, Wagub Rano Sebut Ini 2 Opsi Lokasinya
URC menyatakan bahwa mereka tidak hanya bergerak saat ada kecelakaan, tetapi juga bersuara ketika nasib pengemudi mulai tergeser oleh kepentingan segelintir pihak, terutama untuk kepentingan politik.
Dengan slogan "Dari Ojol, Oleh Ojol, Untuk Ojol", URC menegaskan pergerakan mereka adalah murni suara dari pengemudi. Mereka bertekad akan terus berjuang hingga pemerintah benar-benar mendengar dan menindaklanjuti aspirasi tersebut.
"Permasalahan dunia ojek online makin pelik, dan kami URC tidak akan tinggal diam!" seru Achsanul. "Sudah cukup kami diam, saatnya kami bicara. Sudah cukup kami diatur, saatnya kami menentukan arah. Sudah cukup jadi alat, saatnya kami jadi subjek!"
Tiga Poin Utama Tritura URC:
Berikut adalah rincian tiga tuntutan utama yang disuarakan oleh URC:
1. Penolakan Status Ojol sebagai Buruh/Pekerja
URC dengan tegas menolak segala bentuk regulasi yang berupaya menempatkan pengemudi ojol sebagai buruh atau pekerja. Mereka menegaskan status mereka adalah mitra mandiri yang memiliki hak mengatur jam kerja, memilih pesanan, dan menentukan ritme hidup sendiri.
URC khawatir jika status buruh diterapkan, kemerdekaan dan fleksibilitas yang menjadi nilai utama pekerjaan ini akan hilang, digantikan oleh aturan sepihak dan target yang mengikat.
2. Penolakan Opini Potongan 10 Persen
URC membantah keras opini publik dan framing sepihak yang menyatakan pengemudi menuntut pemotongan persentase pendapatan menjadi 10 persen.
Saat ini, potongan 20 persen telah berjalan bertahun-tahun dan tidak menjadi keberatan bagi mereka. URC menekankan bahwa mereka dan aplikator saling membutuhkan untuk bertahan.
"Apabila aturan membunuh aplikator, sama saja membunuh ojol," kata URC.
Mereka juga mengimbau agar nama pengemudi tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik, regulasi, atau kampanye kelompok tertentu, menegaskan bahwa suara pengemudi asli harus datang dari jalanan, bukan dari ruang rapat.
3. Desakan Pengeluaran Perppu untuk Ojek Online
URC mendesak Presiden Republik Indonesia untuk turun tangan langsung dan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) khusus ojek online.
Saat ini, pengemudi ojol dianggap tidak memiliki kepastian hukum dan payung hukum yang tegas, dengan masing-masing instansi berbicara berbeda sementara risiko sepenuhnya ditanggung di jalanan.
Dengan adanya Perppu, URC berharap akan tercapai:
* Kepastian status hukum bagi pengemudi dan aplikator.
* Hilangnya tumpang tindih kewenangan antar kementerian.
* Kesetaraan pandang antara perlindungan dan kemandirian mitra.
* Satu aturan baku yang adil dan berpihak bagi semua pihak.
"Kami tidak menolak aturan. Tapi kami menuntut aturan realistis dengan kondisi di lapangan," pungkas Achsanul.
Tuntutan ini, menurut URC, adalah suara dari roda yang terus berputar, dari helm yang menatap panas jalanan, dan dari jaket yang penuh peluh perjuangan.
"Kami URC. Kami pengemudi. Kami rakyat aspal. Dan kami menuntut pemerintah mendengarkan kami, suara asli pengemudi!" tutup pernyataan URC. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







