Jakarta

Maesyal-Intan Unggul di Semua Kecamatan, Pengamat Nilai Mad Romli-Irvansyah Gagal Raih Potensi Lumbung Suara di 2 Dapil

Ainun Kusumaningrum | 5 Desember 2024, 18:45 WIB
Maesyal-Intan Unggul di Semua Kecamatan, Pengamat Nilai Mad Romli-Irvansyah Gagal Raih Potensi Lumbung Suara di 2 Dapil

AKURAT JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tangerang mengumumkan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Tangerang nomor urut 2, Maesyal Rasyid-Intan Nurul Hikmah unggul di 29 kecamatan dengan raihan 995.486 suara atau 65,14% dari total 1.528.185 suara sah.

Sementara itu, dua paslon lainnya, Mad Romli-Irvansyah dan Zulkarnain-Lerru gagal unggul di semua kecamatan dengan perolehan suara Mad Romli-Irvansyah 30,89% dan Zulkarnain-Leru 3,96%.

Menanggapi hal tersebut, Akademisi UMT Tangerang, Memed Chumaidi beranggapan, sebenarnya terdapat beberapa kecamatan yang menjadi potensi lumbung suara dari pasangan Mad Romli-Irvansyah, namun kenyataannya tidak bisa.

Baca Juga: Ucap Selamat Kepada Maesyal-Intan Atas Keunggulannya, KPU Kabupaten Tangerang: Semoga Selalu Amanah

"Akan tetapi, lumbung suara ini tiba-tiba tidak mendapatkan antusiasme pemilih untuk mendukung Mad Romli. Malah lebih cenderung memilih pasangan Maesyal-Intan," ujar Memed kepada Akurat Jakarta, Kamis (5/12/2024).

Ia pun menyebut, terdapat 2 daerah pemilihan (dapil) yang seharusnya jadi lumbung suaranya, salah satunya wilayah Balaraja yang merupakan kediaman Mad Romli yang ada di sana.

"Kemudian di kecamatan Sukamulya, Sindangjaya, Rajeg, Pasar Kemis dan lain sebagainya. Di wilayah Dapil 2 dan Dapil 4 lah kalau dihitung secara pemetaan suara," terangnya.

Baca Juga: Unggul di Semua Kecamatan, KPU Kabupaten Tangerang Umumkan Maesyal-Intan Raih 995.486 Suara

Kemudian, ia menjelaskan dari pemetaan pemenangan suara kader Golkar, seperti di wilayah Dapil 2 itu juga semestinya menjadi lumbung suara dari Mad Romli-Irvansyah.

"Sindangjaya, Pasar Kemis, Rajeg, Sukadiri, Mauk, itu dua kursi-dua kursi DPRD di sana itu. Itu pun tidak begitu mendapatkan antusiasme untuk pilihan terhadap Haji Mad Romli dan Irvansyah," ujarnya.

Lebih lanjut, ia pun menjelaskan berbagai faktor menurunnya suara Mad Romli-Irvansyah di kedua dapil itu, salah satunya terkait ketidakmampuan Mad Romli menampilkan isu dalam visi yang ditawarkan kepada publik.

"Artinya seharusnya Mad Romli mampu menawarkan visi-misi yang menurut saya itu harus lebih inovatif dan bisa mengena kepada publik. Tapi ini kenyataannya justru malah tidak mendapatkan respon positif yang baik terhadap pencalonan hal tersebut," katanya.

Ia juga menilai, meskipun Mad Romli mempunyai pengalaman menjadi anggota DPRD, wakil ketua DPRD dan wakil bupati Tangerang, namun mereka belum mampu meningkatkan elektabilitasnya.

"Itu mestinya menjadi satu keunggulan dirinya untuk bisa mendapatkan atensi publik, mendapatkan partisipasi publik untuk bisa mendukung dirinya. Tapi kenyataannya justru malah yang terjadi sebaliknya," sambungnya.

Kemudian, ia menilai faktor lainnya yaitu mesin partai pengusul Mad Romli-Irvansyah tidak jalan. Artinya mesin partai ini bahwa partai PDIP dan partai Demokrat beserta PPP, ini kurang memaksimalkan kinerjanya untuk dapat meraih elektabilitas secara optimal.

Ia juga menilai, dalam keberadaan Mad Romli ini belum terlihatnya para relawan-relawan di dalam dorongan atau supporting election yang mendukung pemilihan untuk kemenangan Mad Romli.

"Sehingga ini murni kerja Mad Romli seorang saja. Tidak ada kekuatan-kekuatan politik lain yang dapat bisa mendorong agar Pak Mad Romli keterpilihannya bisa optimal," katanya.

Terakhir, ia beranggapan penerapan mekanisme jaringan serta mekanisme tim itu tidak dimanfaatkan secara serius oleh Mad Romli dalam Pilkada ini.

"Maka lumbung-lumbung suaranya yang tadi, atau yang tadi saya ceritakan itu kegerus suaranya oleh Pak Maesyal Rasyid dan Intan Nurul Hikmah," tukasnya. (*)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.