Ketua DPRD DKI Minta Pemprov Fokus Atasi Persoalan Lama di Jakarta, Termasuk Banjir dan Macet

AKURAT JAKARTA - Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi meminta kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk fokus mengatasi persoalan lama di lingkungan Jakarta.
Prasetyo, atau kerap disapa Pras mengatakan, Pemprov DKI harus mendorong program berkesinambungan dari kebijakan-kebijakan era kepemimpinan gubernur sebelumnya.
"Makanya, penekanan program berkesinambungan itu harus berjalan, enggak bisa mau menang menang sendiri. Enggak akan jadi, apalagi soal Jakarta, klasik," kata Pras saat ditemui di Gedung DPRD DKI, Selasa (30/7/2024).
Pras mengatakan, sebelum mengatasi berbagai persoalan lain, anggaran harus difokuskan untuk dua program permasalahan klasik di Jakarta terlebih dahulu, yaitu banjir dan macet.
"Anggarannya difokuskan untuk 2 program itu, nah kalau sudah baru ke tempat yang lain. Nah kalau kesehatan, pendidikan kan enggak bisa diapa-apain, udah enggak bisa dikorek-korek. Tapi yang lain dari itu masih bisa buat bergerak," jelasnya.
Ia juga mengatakan, untuk mengatasi banjir di Jakarta, Pemprov DKI perlu pemikiran-pemikiran baru yang bisa mengatasinya, salah satunya seperti program sumur serapan saat era kepemimpinan Gubernur DKI Anies Baswedan.
"Di situlah masuk pemikiran pemikiran baru yang kayak Anies Baswedan namanya sumur resapan. Nah kalau Anies saat itu dikerjakan sama dia, turapnya diberesin semua, jalur air kan digiring masuk ke laut," katanya.
Kemudian, terkait persoalan atasi banjir ini, ia juga mengatakan terdapat permasalahan terhadap kurangnya tempat penampung air di Jakarta, padahal embung atau cekungan penampungnya banyak.
"Kita harus buat embung, kenapa pada pemerintahan Jokowi-Ahok penyangga Jakarta dikasih hibah. Tujuannya apa? lu jangan bangun yang ini, akhirnya ini. Karena apa? Jakarta di bawah Bogor, Puncak sekarang lihat, hujan deres bisa banjir. Ini fakta," katanya.
Untuk itu, ia pun berharap agar Pemprov DKI dapat memfokuskan terkait hal tersebut dengan menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta saat ini mencapai Rp81 Triliun.
"Nah, sebagai pemerintah daerah dengan APBD 81 triliun ini dipikirin, lah, penyangga-penyangga aglomerasi ini," katanya.
Terakhir, ia juga mengatakan, terkait masalah 13 sungai di Jakarta yang seharusnya ditangani oleh Pemprov DKI, namun saat ini masih ditangani oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
"Kenapa sih nggak diserahkan kepada Pemda DKI (soal normalisasi sungai)? Kita duit ada kok. Kalau kena banjir, pemerintah daerah yang kena. Serahin aja ke Jakarta, pasti beres ini," jelasnya.
"Kita punya alat banyak, kita bisa beli alat. 13 sungai ini bisa dibagusin terus, lama-lama beres," imbuhnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Mampukah The Yellow Canaries Raih Kemenangan di Kandang Sendiri?
- 2Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 3Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 4Prediksi Skor Levski Sofia vs AEK Athens di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Momentum Tuan Rumah Jadi Ancaman Juara Liga Yunani
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Tuan Rumah Punya Rekor Impresif
- 7Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 8Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya






