Jakarta

Cerita Haji: Ketika Malaikat Bergosip tentang Status Haji Tukang Sol Sepatu

Ani Nur Iqrimah | 6 Mei 2024, 16:03 WIB
Cerita Haji: Ketika Malaikat Bergosip tentang Status Haji Tukang Sol Sepatu

AKURAT JAKARTA - Haji merupakan ibadah yang menuntut stamina tinggi, sehingga setiap calon haji harus betul-betul memperhatikan kondisi kesehatan mereka.

Pada tahun ini, Pemerintah Indonesia dijadwalkan berangkat secara bertahap jemaah haji ke Mekah, Arab Saudi, mulai 12 Mei 2024.

Kementerian Agama mengungkap Indonesia pada 2024 mendapat 241.000 kuota haji, yang terdiri dari 213.320 kuota haji reguler dan 27.680 kuota haji khusus.

Baca Juga: GRATIS! Meriahkan Festival Gunung Slamet 2024, Ada Kirab Gunungan, Serang Bersholawat hingga Perang Tomat, Catat Tanggalnya

Di kalangan umat muslim, ibadah haji mengandung nilai spiritualitas yang sangat tinggi.

Cerita-cerita di balik ibadah haji selalu bisa menjadi pelajaran bagi orang-orang yang merindukan Ka'bah.

Seperti kisah tentang ulama Sufi Abdullah bin Mubarak dalam kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah Al-Qulyubi.

Baca Juga: Berikut Cara Memindah Tangankan Tiket Konser Sheila On 7, Ternyata Bis Lho, Catat Syarat yang Harus Disiapkan

Suatu ketika, setelah selesai menjalankan ibadah haji, Abdullah bin Mubarak, beristirahat dan tertidur.

Saat tertidur, Abdullah bin Mubarak bermimpi melihat dua Malaikat turun dari langit.

Abdullah bin Mubarak mendengar ke dua malaikat itu bercakap-cakap.

Baca Juga: Laga Timnas Indonesia vs Guinea dalam Play-Off Olimpiade 2024 Disiarkan di FIFA+, Berikut adalah Cara Menontonnya

"Berapa orang yang datang tahun ini untuk berhaji?," tanya malaikat pertama kepada malaikat kedua

"Enam ratus ribu jama'ah" jawab Malaikat kedua.

"Berapa banyak dari mereka yang diterima ibadah hajinya?," tanya malaikat pertama.

Baca Juga: Pecinta Batagor Acung Tangan, Nih 6 Kedai Paling Enak di Jakarta, Murah dan Bumbu Kacangnya Maknyus

"Tidak satupun," jawab malaikat kedua.

Mendengar percakapan itu, Abdullah bin Mubarak gemetar.

"Apa?," kata Abdullah bin Mubarak menangis.

Baca Juga: Danau Citra 8, Wisata Gratis di Pinggiran Jakarta, tak perlu khawatir akan kelaparan dan kehausan

"Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?" kata Abdullah.

Abdullah mendengar ke dua malaikat itu melanjutkan percakapan mereka.

"Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh ibadah haji mereka diterima oleh Allah."

Baca Juga: Semua Bisa Maju Cagub Secara Independen DKI Jakarta? Simak Syaratnya Berikut Ini

"Kenapa bisa begitu?."

"Itu kehendak Allah."

"Siapa orang tersebut?"

Baca Juga: Cerita Haji: Saat Ulama Ahli Fiqih Gagal Pergi Haji Karena Mengutamakan Sedekah

"Ali bin Al Muwaffaq, tukang sol sepatu di Kota Damaskus."

Abdullah Mubarak pun lalu terbangun dari tidur.

Sepulang haji, alih-alih langsung pulang menuju rumah, Abdullah Mubarak memutuskan pergi ke kota Damaskus, Syiria.

Baca Juga: Deadline Malam Ini! Bappeda DKI Jakarta Buka Lowongan Kerja untuk Tenaga Ahli Publikasi

Di Damaskus, Abdullah Mubarak segera mencari sang tukang sol sepatu yang disebut-sebut dalam percakapan Malaikat.

Abdullah Mubarak hampir menanyakan keberadaan Ali bin Muwaffaq kepada ke semua tukang sol sepatu.

"Ada, di tepi kota" jawab salah seorang tukang sol sepatu sambil menunjuk arah.

Baca Juga: Bikin Konten Terkait Jakarta dan Singgung Penonaktifan NIK, Kode Ahok Maju Pilkada 2024?

Setelah sampai, Abdullah mendapati seorang tukang sol sepatu berpakaian amat lusuh.

"Benarkah anda bernama Ali bin Al Muwaffaq?" tanya Abdullah bin Mubarak.

"Betul tuan, ada yang bisa saya bantu?" jawabnya.

Baca Juga: Kapan Hukum Wajib Ibadah Haji Bisa Menjadi Haram?

"Saya hendak tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, padahal anda tidak berangkat haji," tanya Abdullah bin Mubarak.

"Wah saya sendiri tidak tahu tuan," jawabnya.

"Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini," tanya Abdullah bin Mubarak.

Baca Juga: Kapan Hukum Wajib Ibadah Haji Bisa Menjadi Haram?

Ali bin Al Muwaffaq pun lalu bercerita.

"Sejak puluhan tahun yang lalu. Setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan, hingga akhirnya pada tahun ini, saya memiliki 350 dirham, cukup untuk saya berhaji, saya sudah siap berhaji," kata si tukang sol.

"Tapi kamu batal berangkat haji," tanya Abdullah bin Mubarak.

"Benar."

Baca Juga: Rekomendasi 5 Lokasi Pecel Lele di Jakarta Paling Ramai, Harganya Masih Rp 20 Ribuan, Lengkap dengan Vareasi Menu

"Apa yang terjadi?,"

"Ketika itu, Istri saya hamil dan mengidam. Waktu saya hendak berangkat, dia ngidam berat."

"Suamiku, adakah engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?"

"Iya, sayang."

Baca Juga: Perhatikan 6 Tips Menjaga Kebugaran bagi Jemaah Haji, Nomor 1 Sangat Penting bagi Yang Memiliki Riwayat Penyakit Penyerta

"Cobalah kamu cari, siapakah yang masak sehingga baunya begitu nikmat. Mintalah sedikit untukku," kata istinya.

"Kemudian sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh," terang tukang sol sepatu.

Di gubung itu, tinggal seorang janda dan enam orang anak.

Baca Juga: Dirumorkan Maju Pilkada DKI Jakarta 2024, Anies Baswedan: Semua Panggilan Tugas Dipertimbangan dengan Serius

"Saya mengatakan kepadanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya," kata Ali bin Al Muwaffaq

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan, "tidak boleh, Tuan."

"Dijual berapapun akan saya beli," tukang sol itu mendesak.

Baca Juga: 5 Persiapan Yang Harus Kamu Bawa saat Menunaikan Haji di Tanah Suci, Nomor 3 Jangan Sampai Disepelekan!

"Makanan itu tidak dijual, Tuan," katanya sambil berlinang air mata.

"Kenapa?"

Sambil menangis, janda itu menjawab, "Daging ini halal untuk kami dan haram untuk Tuan."

Baca Juga: Resep Asem Asem Iga Sapi, Menu Istimewa Dibuat Bareng Keluarga di Rumah, Rasanya Maknyus di Mulut Bikin Nambah

Dalam hati Ali bin Al Muwaffaq bertanya, "bagaimana mungkin ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya. Padahal kita sama-sama muslim?"

"Karena itu saya mendesaknya lagi, 'Kenapa?'."

"Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Di rumah sama sekali tak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk kami masak, dan kami makan," kata janda itu menangis.

Baca Juga: Konser Anggun C Sasmi Siap Hibur Para Penggemarnya Secara Intimate di Indonesia, Cek Tanggalnya di Sini

"Mendengar ucapan itu, saya menangis, kemudian kembali pulang. Aku ceritakan perihal kejadian itu pada istriku, iapun menangis. Hingga akhirnya, kami memasak makanan dan mendatangi rumah janda tersebut," kata tukang sol itu kepada Abdullah bin Mubarak.

"Ini kami bawakan masakan untukmu."

"Uang haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka. 'Pakailah uang ini untukmu sekeluarga. Gunakanlah untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi'."

Baca Juga: Resep dan Cara Masak Gulai Ayam Khas Sumatera yang Gurih dan Lezat, Bisa Dicoba Bikin Sendiri di Rumah

Mendengar cerita dari tukang sol, Abdullah bin Mubarak pun tak bisa menahan air mata,

Ternyata inilah amalan yang dilakukan oleh Sa'id Ibn Muhafah sehingga Allah menerima amalan hajinya meskipun tanpa menunaikan ibadah haji.*

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
M
Editor
Mustolih.