Golok Betawi dan Kisah Tragis Cinta Si Jampang: Ditolak Mayangsari dan Mati Dibedil Kompeni

AKURAT JAKARTA - Golok merupakan salah satu senjata tradisional masyarakat Betawi.
Dikutip dari Buku Sahabatku Indonesia terbitan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan 2019, orang Betawi biasanya memisahkan untuk bekerja (gablongan) dengan golok simpenan (sorenan) yang hanya digunakan ketika hendak menyembelih hewan atau untuk menjaga diri.
Golok Betawi memiliki tiga bentuk, golok betok yang pendek; golok ujung turun (ujungnya lancip); dan golok gobang (panjang dan terbuat dari bahan berkualitas tinggi).
Baca Juga: Simak 3 Suplemen yang Efektif Membantu Turunkan Berat Badan, Apa Saja?
Dulu, Golok kerap menjadi alat kelengkapan keseharian pakaian adat Betawi kaum pria.
Golok disimpan dengan cara diselipkan di ikat pinggang hijau dan dikenakan ketika bekerja atau bepergian untuk sarana perlindungan diri.
Orang Betawi yang menenteng golok bisa dianggap sebagai jago silat.
Baca Juga: Bencana Longsor di Tana Toraja Telan 18 Korban Jiwa, Berikut Daftar Para Korban
Dulu saat Betawi berada dalam penjajahan Kompeni, ada pendekar yang piawai memainkan golok bernama si Jampang.
Jampang adalah seorang duda dari Betawi yang dikenal memiliki ilmu silat tingkat tinggi.
Si Jampang sering merampok harta benda untuk dibagikan kepada rakyat miskin.
Baca Juga: Jangan Lewatkan Pemandangan Eksotis 4 Candi Besar saat Melewati Magelang, Dijamin Arus Balik Lebaran Idulfitri Kamu Berakhir Membahagiakan
Suatu hari si Jampang mengunjungi Sarba, sahabat lamanya.
Namun, istri Sarba, Mayangsari, mengatakan bahwa suaminya itu sudah meninggal.
Mayang bercerita, Sarba pernah berziarah ke suatu tempat dan berjanji menyumbang dua ekor kerbau jika dikaruniai anak.
Baca Juga: Catat Kategori ASN yang Wajib WFO Mulai Besok, Selasa 16 April 2024
Kemudian, lahirlah anak mereka, yang diberi nama Abdih.
Namun, Sarba lantas meninggal.
Warga beranggapan Sarba meninggal karena lupa pada nazarnya yang pernah dia buat.
Baca Juga: Asal Usul Condet di Jakarta Timur: Diambil dari Nama Pangeran, Semasa Gubernur Ali Sadikin Pernah Berstatus Cagar Budaya Masyarakat Betawi
Kasihan melihat Mayangsari menjanda, si Jampang lantas melamar Mayangsari. “Mayang, bagaimana jika kita menikah saja? Jika kamu setuju, aku akan menyayangi Abdih seperti anakku sendiri,” kata Jampang merayu Mayangsari.
Namun, Mayangsari menolak. “Saya tidak mau," ujar Mayangsari menjawab.
Tidak patang semangat, Si Jampang lalu menemui Abdih untuk meminta restu memperistri ibunya itu.
Baca Juga: Tenang Saja, Ganjil Genap di Jakarta Belum Diberlakukan pada Libur Terakhir Lebaran
"Saya tidak menolak pinangan Mang Jampang untuk ibu saya, tapi saya minta sepasang kerbau untuk mas kawinnya," jelas Abdih.
“Baiklah, aku setuju untuk memenuhi permintaanmu,” jawab Jampang.
Jampang segera berusaha mendapatkan dua ekor kerbau.
Baca Juga: Asal-usul Julukan Macan Kemayoran untuk Persija Jakarta, Berakar dari Kisah Jawara Betawi di Masa Penjajahan Kompeni
Lalu, ia teringat pada Haji Saud yang sangat kaya, tapi berhati kikir.
Si Jampang lantas merampok rumah Haji Saud.
Namun, di sekitar rumah Haji Saud, polisi sudah bersiaga.
Mereka mengepung dan menangkap Jampang. Jampang lalu dijatuhi hukuman mati.
Kematian si Jampang disambut gembira para kompeni dan
tuan tanah, tapi ditangisi rakyat miskin.*
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





