Jakarta

Peringati Tahun Baru Islam dengan Grebeg Suro hingga Wayang Kulit, Bupati Tangerang Ajak Masyarakat Lestarikan Budaya Lokal

M Rahman Akurat | 16 Juni 2026, 07:34 WIB
Peringati Tahun Baru Islam dengan Grebeg Suro hingga Wayang Kulit, Bupati Tangerang Ajak Masyarakat Lestarikan Budaya Lokal
Bupati Maesyal Rasyid saat menghadiri Grebeg Suro, Kirab Budaya dan Pagelaran Wayang Kulit dalam rangka Tahun Baru Islam di Kecamatan Panongan.

AKURAT JAKARTA – Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan kebudayaan lokal sebagai identitas bangsa.

Menurutnya, warisan budaya yang dirawat dengan baik mampu memperkuat semangat persatuan di tengah keberagaman masyarakat yang ada di Kabupaten Tangerang.

Pesan penting tersebut disampaikan oleh Bupati saat menghadiri acara Grebeg Suro, Kirab Budaya, dan Pagelaran Wayang Kulit.

Baca Juga: BYD Buka Babak Baru Mobil Listrik Lewat ePlatform 3.0, Desain Lebih Ringkas dengan Performa Buas yang Bikin Pengemudi Melirik

Acara yang digelar dalam rangka memperingati tahun baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah ini berlangsung meriah di Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, pada Senin (15/6/2026).

Dalam sambutannya, Bupati Maesyal Rasyid memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan acara ini.

Secara khusus, apresiasi ditujukan kepada panitia penyelenggara, Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) Kabupaten Tangerang, serta Badan Penghubung Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Kami sangat mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan budaya ini yang dilakukan dengan penuh semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap warisan budaya bangsa," ujar Bupati Maesyal Rasyid.

Baca Juga: Sering Disebut Ikuti Tradisi Yahudi, Begini Asal-usul Sebenarnya Puasa Asyura dan Tasua

Makna Mendalam Bulan Suro dan Wayang Kulit

Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro atau 1 Muharram bukan sekadar pergantian kalender.

Bupati Maesyal menjelaskan bahwa momen ini memuat esensi spiritual dan sosial yang sangat tinggi untuk kehidupan sehari-hari.

"Bulan Suro memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Jawa. Bukan hanya sebagai momentum introspeksi dan penguatan spiritualitas, tetapi juga sebagai sarana mempererat persaudaraan, menjaga kerukunan, dan melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur," jelasnya.

Ia menambahkan, pagelaran seni seperti Grebeg Suro dan kirab budaya serta wayang kulit merupakan bukti nyata komitmen masyarakat dalam membentengi kebudayaan asli Indonesia dari gempuran zaman.

"Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga identitas yang harus kita jaga dan wariskan kepada generasi mendatang," tegas.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.