Mengajarkan dengan Bahasa yang Manusiawi, Urgensi Memahami Pengetahuan Sejarah yang Autentik dari Suatu Peristiwa

Oleh: Resza Mustafa, Pegiat Literasi, Pengamat Sosiologi dan Cyber Media. Penulis, Penerjemah, serta Penerbit di Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN) MWC NU Margoyoso, Pati.
SEJARAH merupakan objek dari suatu studi yang bersifat sistematis tentang peristiwa masa lampau. Urgensi mempelajari pengetahuan sejarah dapat membuat suatu peristiwa itu setidaknya tidak hanya menjadi bahan pengetahuan melainkan renungan atau bahan pembelajaran. Ilmu pengetahuan barat sekuler menempatkan pengetahuan sejarah dengan cara yang sangat spesifik dan pada tingkat tertentu, disebut revolusioner.
Orang-orang dapat melakukan aktivitas yang lebih baik dari masa lalu karena belajar sejarah, secara premisnya adalah mendapat hikmah. Sementara pada tingkat tertentu dapat menjadi doktrin yang mampu menyerupai doktrin religiositas. Oleh karena itu dalam konteks ini mengandung adagium "Jas Merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah," karena sejarah dapat mengubah segala hal.
Tantangan Generasi Muda Membaca Sejarah
Sejarah bukan sekadar kumpulan tanggal dan peristiwa melainkan sebuah spionase yang jujur. Menunjukkan pengamatan terhadap pengalaman kolektif yang dialami manusia dalam suatu peradaban. Edward Hallet Carr dalam "What Is History?" mengungkapkan bahwa sejarah adalah sebuah proses interaksi yang berkelanjutan antara sejarawan dan fakta-fakta mereka, sebuah dialog tanpa akhir antara masa kini dan masa lalu.
Seorang sejarawan yang mencintai pengetahuan sejarah seperti halnya memasak data dan fakta suatu peristiwa. Mengumpulkannya, membawanya pulang, serta memasak dan menyajikannya dengan gaya apa pun yang menarik baginya. Kemudian muncul suatu pertanyaan, apakah benar yang dia sajikan merupakan hal yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan, layak dikonsumsi khalayak?
Faktor yang paling berpengaruh dalam upaya mendapatkan data dan fakta sejarah yaitu ketika seorang sejarawan menyusun narasi sejarah secara akurat.
Narasi yang akurat adalah sebuah proses serta pekerjaan dengan kompleksitas tinggi. Pekerjaan ini bukan sekadar mengumpulkan potongan-potongan informasi, melainkan sebuah pekerjaan detektif intelektual yang memerlukan ketelitian, objektivitas, dan pemahaman mendalam tentang sifat dasar bukti itu sendiri. Maka menjadi sejarawan bukanlah hal yang mudah dan bagi para generasi muda pembaca sejarah tentu perlu memaklumi hal ini.
Sayangnya, pengetahuan sejarah bisa menjadi bagian yang sangat buruk bila tercemari tindakan seperti manipulasi narasi dan egoisme individu atau kelompok tertentu. Sehingga pengetahuan sejarah harus disertai dengan bukti-bukti yang otentik. Hal ini menjadi tantangan bagi generasi muda ketika berkecimpung dalam ranah pengetahuan sejarah.
Bahasa sebagai Kunci Pemahaman Sejarah
Tanpa bahasa, sejarah tidak akan tercipta. Hal ini menempatkan sejarah pada tingkat yang setara dengan pengetahuan religiositas. Sebab keyakinan (keimanan) dapat muncul dari sejarah-sejarah yang diceritakan.
Semua tahu bagaimana bahasa Arab merupakan bahasa Alquran yang menyimpan banyak kisah teladan sejarah peradaban. Alkitab dengan bahasa Ibrani dan Yunani, Weda dengan bahasa Sanskerta. Hal ini secara fundamental, memperlihatkan bahwa bahasa dalam naskah-naskah suci tersebut berfungsi sebagai medium primer untuk menyimpan informasi sejarah.
Karena bahasa dapat menjadi alat yang dapat membuat narasi sejarah, lantas apakah narasi tersebut kemudian tidak dapat dimanipulasi? Manipulasi narasi berhubungan erat dengan penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tulisan. Penempatan bahasa dalam sejarah dapat berfungsi sebagai media transparansi yang membentuk fakta (realita suatu peristiwa). Mungkin ada yang bertanya-tanya, di zaman ini, apakah buku sejarah yang beredar di pasaran narasinya dapat dipertanggungjawabkan?
Kekuatan Narasi dalam Buku Sejarah Baru
Salah satu petunjuk yang dapat mengungkapkan orisinalitas suatu pengetahuan sejarah adalah sebentuk "teks" dan "kode" yang bisa dijumpai jejak-jejaknya dalam beragam bentuk. Mulai dari pribadi berpengaruh yang masih hidup kemudian berkisah, hingga ke jejak peninggalannya baik berupa naskah, simbol, maupun objek-objek artefak berharga yang ditinggalkannya.
Sekarang ini banyak narasi buku-buku sejarah bergantung pada konteks.Banyak buku yang diedarkan sesuai kepentingan. Oleh karena itu perlu kehati-hatian untuk memilih buku mana yang perlu dibaca. Contohnya kita sama-sama tahu dalam buku pelajaran sejarah nasional Jepang, tidak pernah mencantumkan kisah-kisah imperealis melainkan menggunakan bahasa yang lebih halus untuk memodifikasi citra bangsa.
Tidak jauh berbeda, tepatnya dalam peluncuran buku, "Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global, Fadli Zon, selaku Menteri Kebudayaan RI menyatakan Belanda punya versi berbeda ketika menulis jejak sejarahnya di Indonesia. Sehingga kemudian banyak menimbulkan terminologi-terminologi berbeda dalam sebuah peristiwa sejarah. Tentu saja kasus ini serupa dengan apa yang terjadi di Jepang.
Peluncuran buku Sejarah Indonesia terbaru patut dibaca sebagai upaya membangun jembatan antargenerasi melalui narasi kebangsaan yang lebih utuh. Dari Bab 1 hingga Bab 11, buku ini menghadirkan fondasi penting untuk memahami perjalanan Indonesia tidak semata sebagai rangkaian peristiwa politik, melainkan sebagai proses panjang pembentukan peradaban.
Pendekatan ini menjadi relevan di tengah tantangan generasi hari ini yang kerap berjarak dengan sejarahnya sendiri. Dengan menampilkan kontinuitas antara masa lalu dan masa kini, buku ini membuka ruang dialog lintas zaman: bagaimana nilai gotong royong, daya adaptasi, dan kebinekaan telah menjadi kekuatan masyarakat Nusantara jauh sebelum konsep Indonesia dirumuskan.
Sejarah sebagai Cerita tentang Manusia, Bukan hanya Peristiwa
Sejarah merupakan jenis pengetahuan yang berhubungan dengan pewarisan. Pewarisan dari banyak hal penting yang terjadi pada masa lampau ke generasi berikutnya guna menghadapi peradaban. Orang-orang yang mendalam pengetahuannya memandang penting sekali memelihara peninggalan dan warisan generasi terdahulu yaitu sejarah. Sebab dalam pengetahuan sejarah itu tersimpan banyak cakupan makna, mulai dari sosial, kultural, bahkan spiritual.
Sejarah berakar kuat pada kemampuannya untuk memberikan lingkup sosial masyarakat berupa rasa kontinuitas dan identitas. Tanpa catatan masa lalu, sebuah masyarakat atau peradaban akan seperti individu tanpa ingatan. Kerugian dalam ketersesatan, bingung, dan tidak mampu belajar dari kesalahan sebelumnya.
Sejarah ini ditanamkan sebagai siklus berkelanjutan, artinya dalam bentuk pengetahuan warisan generasi penerus selain perlu mempelajarinya juga perlu menambahkan babak baru melalui apa yang dicapainya. Maka dalam statistik sepak bola akan terus ada istilah pencapaian rekor prestasi seorang pemain bintang. Sejarah akan terus tercipta dan menciptakan pengetahuan baru. Sejarah dapat tetap hidup dan relevan, berfungsi sebagai gudang kebijaksanaan yang tak ternilai harganya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





