Jakarta

Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Karena Amerika Langgar Kesepakatan, Bagaimana Nasib Dua Kapal Tanker Pertamina?

M Rahman Akurat | 19 April 2026, 07:21 WIB
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Karena Amerika Langgar Kesepakatan, Bagaimana Nasib Dua Kapal Tanker Pertamina?
Kapal tanker Pertamina Pride yang masih belum bisa melintasi Selat Hormuz.

AKURAT JAKARTA – Situasi di jalur perdagangan maritim dan distribusi minyak mentah paling vital di dunia, Selat Hormuz, kembali memanas.

Hanya berselang beberapa jam setelah sempat dibuka pada Jumat (17/4), pemerintah Iran memutuskan untuk kembali menutup akses selat tersebut.

Kebijakan ini memicu kekhawatiran terkait keamanan pasokan energi global dan nasib kapal komersial yang melintas, termasuk dua kapal tanker milik PT Pertamina.

Baca Juga: Bukan SUV Listrik Biasa, BYD Atto 2 Digadang Jadi Raja Efisiensi Baru dengan Teknologi Fast Charging dan Biaya Operasional Murah

Alasan Iran Tutup Kembali Selat Hormuz

Penutupan mendadak ini dilakukan Iran dengan alasan Amerika Serikat (AS) telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Komando militer pusat Iran menyatakan bahwa Washington tidak menepati janji untuk menghentikan blokade angkatan laut terhadap kapal-kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran.

"Sampai Amerika Serikat memulihkan kebebasan bergerak untuk semua kapal yang mengunjungi Iran, situasi di Selat Hormuz akan tetap dikendalikan secara ketat," bunyi pernyataan resmi militer Iran yang dilansir dari AFP, Sabtu (18/4).

Sebelumnya, pembukaan selat ini sempat memberi harapan setelah adanya gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.

Namun, ketegangan antara Teheran dan Washington justru meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan tetap akan mempertahankan blokade jika kesepakatan damai tidak tercapai sebelum Rabu (22/4) mendatang.

Baca Juga: Hadiri HUT Forum Kadus Kabupaten Tangerang, Bupati Maesyal Sebut Kepala Dusun Garda Terdepan Pelayanan Masyarakat, Harus Sinergi dengan Kades

Update Kondisi Kapal Pertamina

Di tengah ketidakpastian ini, perhatian publik nasional tertuju pada dua kapal tanker raksasa milik Pertamina, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro.

Berdasarkan data Vessel Finder, kedua kapal tanker milik Pertamina tersebut masih terdeteksi berada di wilayah Teluk Persia.

Pertamina Pride terdeteksi berada di lepas pantai Al Jubail, Arab Saudi. Sedangkan Gamsunoro tercatat berada di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab.

Langkah Mitigasi Pertamina International Shipping

Merespons situasi darurat ini, PT Pertamina International Shipping (PIS) memastikan pihaknya terus melakukan pemantauan intensif dan menyiapkan rencana pelayaran (passage plan) yang aman bagi kedua kapal tersebut.

Baca Juga: Legislator Golkar Farah Savira Usul Perjelas Definisi Ketahanan Keluarga dalam Raperda Pembangunan Keluarga

"Kami siaga melakukan pemantauan secara intensif dan menyiapkan perencanaan pelayaran yang aman agar kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro dapat melintasi Selat Hormuz," ujar Pejabat Sementara Corporate Secretary PIS, Vega Pita, dilansir dari Antara.

Langkah-langkah strategis yang telah disiapkan meliputi:

  • Penyusunan rute alternatif dan identifikasi risiko navigasi.

  • Koordinasi diplomatik secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI.

  • Komunikasi dengan otoritas setempat, perusahaan asuransi, serta manajemen kapal.

  • Rencana kontingensi untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk di lapangan.

Vega menekankan bahwa prioritas utama perusahaan saat ini adalah keselamatan seluruh awak kapal serta keamanan muatan yang dibawa.

Baca Juga: BYD Atto 2 Makin Canggih dengan Fitur ADAS dan Kenyamanan Baru, SUV Listrik Andalan Kini Naik Kelas dengan Blade Battery

Hingga saat ini, pihak Pertamina terus menunggu lampu hijau dari otoritas terkait sebelum memutuskan untuk melanjutkan pelayaran melalui jalur yang sangat rawan tersebut. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.