Jakarta

NOVEL BAG.96 : Kesempatan Hidup Istriku Tinggal Fifty-fifty

Sastra Yudha | 10 September 2023, 11:13 WIB
NOVEL BAG.96 : Kesempatan Hidup Istriku Tinggal Fifty-fifty

DOKTER Dudi merekomendasikan agar istriku menjalani operasi paru-paru. Aku masih pikir-pikir. Karena biaya operasi paru-paru pasti mahal sekali.

Kami keluar dari ruang dokter Dudi. Belum juga aku ajak bicara, istriku sudah menyatakan menolak untuk dioperasi.

"Mau dioperasi ya..?" tanya istriku.

"Iya. Biar bisa sembuh," jawabku.

"Ogah...! Dirawat aja aku ogah. Apalagi dioperasi," tegasnya.

"Tapi, kan..." belum sempat aku melanjutkan bicara, istriku sudah memotong.

"Nggak usah tapi-tapian...! Aku bilang, nggak mau operasi. Titik. Sekarang kita pulang saja..!"

Aku terdiam. Aku sedang menimbang-nimbang, apa keputusan yang terbaik. Aku juga sedang berpikir, ke mana akan cari pinjaman duit, untuk biaya operasi.

"Lagipula, duitnya dari mana buat operasi? Buat kebutuhan sehari-hari aja sudah kembang kempis," sela istriku.

Baca Juga: Tips Mencegah dan Mengatasi Flexing

Iya juga sih. Dalam hati, aku membenarkan pendapat istriku. Selama ini, uang gajiku habis buat wira-wiri ke rumah sakit dan ke pengobatan alternatif.

Tapi, kira-kira habis biaya berapa ya.? Siapa tahu, ternyata jauh dari perkiraan. Aku pun kembali menyambangi dokter Dudi. Masuk di sela-sela antrian pasien.

"Maaf, Dok. Berapa kira-kira biaya operasi untuk istri saya?" katanya.

"Untuk biaya operasi sekitar 30 juta. Lebih pastinya, silahkan tanyakan di bagian bedah."

Mendengar angka 30 juta, kepalaku langsung nyut-nyutan. Dengan duit segitu banyak, apakah dijamin pasti sembuh. Dari mana aku dapatkan uang sebanyak itu.

Tapi di sisi lain, aku ingin istriku sembuh. Agar dapat beraktifitas seperti sediakala. Meskipun sikapnya sering menyebalkan, tapi aku cinta padanya. Meskipun ia tak cinta padaku. Bahkan hingga tiga tahun usia pernikan kami, cinta itu belum tumbuh juga di hatinya.

Aku percaya dan yakin, hari itu terbuat dari segumpal daging dan jaringan urat syaraf. Meskipun hatinya keras, namun tak sekeras batu. Bila aku terus memberinya cinta, maka aku yakin suatu saat nanti dia akan mencintaiku.

Batu yang keras saja, bila ditimpa tetesan air secara terus menerus, lama-lama aku hancur juga. Apalagi hati manusia.

Karena itu, aku terus memupuk cinta itu, meski Nur Laila Yasmin tak kunjung mencintaiku. Karena sejauh ini, kata Cinta itu belum pernah terucap dari mulutnya.

Baca Juga: Jual Ribuan Obat Terlarang, 2 Pemuda Ditangkap

"Kira-kira konsekwensinya apa bila tidak dilakukan operasi, Dok?" tanyaku lebih lanjut.

"Secara medis, harus dioperasi. Hanya itu cara untuk membunuh kanker, agar tidak menjalar. Kalau tidak dioperasi, peluangnya ya fifty-fifty."

"Maksudnya, peluang sembuhnya fifty-fifty, Dok?"

"Bukan. Kesempatan hidupnya fifty-fifty."

"Maaf, ya Dok. Dokter kan bukan malaikat. Bukan Tuhan. Nggak ada yang tahu umur seseorang, Dok. Nabi aja nggak tau, apalagi dokter yang hanya manusia biasa," kataku.

Aku sangat marah, karena dokter sok tahu. Padahal, urusan hidup dan mati itu urusan Alloh. Tak satupun manusia yang tahu, kapan dan di bumi mana dia akan mati.

"Ya kan ini secara medis. Bapak betul, urusan mati itu urusan Tuhan. Kita sebagai manusia hanya berusaha."

"Iya. Tapi dokter nggak bisa ngomong gitu dong...! Enak saja bilang kesempatan hidup istri saya tinggal separoh. Kita nggak tahu, siapa yang akan mati duluan. Bisa saja, dokter lebih dulu," kataku ketus, sambil berlalu meninggalkan ruang dokter Dudi.

Baca Juga: Masa Kampanye Semakin Dekat, KPU DKI Ingatkan Partai Politik Membuat RKDK

Aku merasa senang dan sedikit plong, karena kini penyakit istriku diketahui. Itu setelah selaput penutup luka atau flek di paru-paru istriku 'dibuka' oleh Suhu.

Suhu benar, ada enam luka di paru-paru istriku. Karena infeksi itu sudah cukup lama, menyebabkan kanker.

Di sisi lain, aku shock dan kaget. Karena paru-paru istriku harus dioperasi. Butuh dana tak sedikit. Dari mana biaya operasi istri itu bisa aku peroleh. 

Aku pun sampaikan ke istriku bahwa menurut Dokter Dudi, kalau tidak dilakukan operasi, maka kesempatan hidupnya tinggal fifty-fifty.

Istriku hanya diam. Namun, ia kekeh pada pendiriannya; tak mau dioperasi.

"Kita cari opsi lain. Cari rumah sakit atau dokter lain. Yang nggak pakai operasi-operasian," katanya.

Dan, akhirnya kami pun memutuskan untuk tidak melakukan operasi. Aku berserah diri kepada Alloh. Kami ada karena Alloh, dan akan kembali kepada Alloh. (Bersambung)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.