NOVEL BAG.96 : Kesempatan Hidup Istriku Tinggal Fifty-fifty

DOKTER Dudi merekomendasikan agar istriku menjalani operasi paru-paru. Aku masih pikir-pikir. Karena biaya operasi paru-paru pasti mahal sekali.
Kami keluar dari ruang dokter Dudi. Belum juga aku ajak bicara, istriku sudah menyatakan menolak untuk dioperasi.
"Mau dioperasi ya..?" tanya istriku.
"Iya. Biar bisa sembuh," jawabku.
"Ogah...! Dirawat aja aku ogah. Apalagi dioperasi," tegasnya.
"Tapi, kan..." belum sempat aku melanjutkan bicara, istriku sudah memotong.
"Nggak usah tapi-tapian...! Aku bilang, nggak mau operasi. Titik. Sekarang kita pulang saja..!"
Aku terdiam. Aku sedang menimbang-nimbang, apa keputusan yang terbaik. Aku juga sedang berpikir, ke mana akan cari pinjaman duit, untuk biaya operasi.
"Lagipula, duitnya dari mana buat operasi? Buat kebutuhan sehari-hari aja sudah kembang kempis," sela istriku.
Baca Juga: Tips Mencegah dan Mengatasi Flexing
Iya juga sih. Dalam hati, aku membenarkan pendapat istriku. Selama ini, uang gajiku habis buat wira-wiri ke rumah sakit dan ke pengobatan alternatif.
Tapi, kira-kira habis biaya berapa ya.? Siapa tahu, ternyata jauh dari perkiraan. Aku pun kembali menyambangi dokter Dudi. Masuk di sela-sela antrian pasien.
"Maaf, Dok. Berapa kira-kira biaya operasi untuk istri saya?" katanya.
"Untuk biaya operasi sekitar 30 juta. Lebih pastinya, silahkan tanyakan di bagian bedah."
Mendengar angka 30 juta, kepalaku langsung nyut-nyutan. Dengan duit segitu banyak, apakah dijamin pasti sembuh. Dari mana aku dapatkan uang sebanyak itu.
Tapi di sisi lain, aku ingin istriku sembuh. Agar dapat beraktifitas seperti sediakala. Meskipun sikapnya sering menyebalkan, tapi aku cinta padanya. Meskipun ia tak cinta padaku. Bahkan hingga tiga tahun usia pernikan kami, cinta itu belum tumbuh juga di hatinya.
Aku percaya dan yakin, hari itu terbuat dari segumpal daging dan jaringan urat syaraf. Meskipun hatinya keras, namun tak sekeras batu. Bila aku terus memberinya cinta, maka aku yakin suatu saat nanti dia akan mencintaiku.
Batu yang keras saja, bila ditimpa tetesan air secara terus menerus, lama-lama aku hancur juga. Apalagi hati manusia.
Karena itu, aku terus memupuk cinta itu, meski Nur Laila Yasmin tak kunjung mencintaiku. Karena sejauh ini, kata Cinta itu belum pernah terucap dari mulutnya.
Baca Juga: Jual Ribuan Obat Terlarang, 2 Pemuda Ditangkap
"Kira-kira konsekwensinya apa bila tidak dilakukan operasi, Dok?" tanyaku lebih lanjut.
"Secara medis, harus dioperasi. Hanya itu cara untuk membunuh kanker, agar tidak menjalar. Kalau tidak dioperasi, peluangnya ya fifty-fifty."
"Maksudnya, peluang sembuhnya fifty-fifty, Dok?"
"Bukan. Kesempatan hidupnya fifty-fifty."
"Maaf, ya Dok. Dokter kan bukan malaikat. Bukan Tuhan. Nggak ada yang tahu umur seseorang, Dok. Nabi aja nggak tau, apalagi dokter yang hanya manusia biasa," kataku.
Aku sangat marah, karena dokter sok tahu. Padahal, urusan hidup dan mati itu urusan Alloh. Tak satupun manusia yang tahu, kapan dan di bumi mana dia akan mati.
"Ya kan ini secara medis. Bapak betul, urusan mati itu urusan Tuhan. Kita sebagai manusia hanya berusaha."
"Iya. Tapi dokter nggak bisa ngomong gitu dong...! Enak saja bilang kesempatan hidup istri saya tinggal separoh. Kita nggak tahu, siapa yang akan mati duluan. Bisa saja, dokter lebih dulu," kataku ketus, sambil berlalu meninggalkan ruang dokter Dudi.
Baca Juga: Masa Kampanye Semakin Dekat, KPU DKI Ingatkan Partai Politik Membuat RKDK
Aku merasa senang dan sedikit plong, karena kini penyakit istriku diketahui. Itu setelah selaput penutup luka atau flek di paru-paru istriku 'dibuka' oleh Suhu.
Suhu benar, ada enam luka di paru-paru istriku. Karena infeksi itu sudah cukup lama, menyebabkan kanker.
Di sisi lain, aku shock dan kaget. Karena paru-paru istriku harus dioperasi. Butuh dana tak sedikit. Dari mana biaya operasi istri itu bisa aku peroleh.
Aku pun sampaikan ke istriku bahwa menurut Dokter Dudi, kalau tidak dilakukan operasi, maka kesempatan hidupnya tinggal fifty-fifty.
Istriku hanya diam. Namun, ia kekeh pada pendiriannya; tak mau dioperasi.
"Kita cari opsi lain. Cari rumah sakit atau dokter lain. Yang nggak pakai operasi-operasian," katanya.
Dan, akhirnya kami pun memutuskan untuk tidak melakukan operasi. Aku berserah diri kepada Alloh. Kami ada karena Alloh, dan akan kembali kepada Alloh. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Rumania vs Wales, 7 Juni 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 2Prediksi Skor Denmark vs Ukraina, 7 Juni 2026: De Rod-Hvide Bidik Kebangkitan di Odense
- 3Prediksi Skor Arab Saudi vs Puerto Rico, 6 Juni 2026: Kesempatan Falcons Kembali ke Jalur Kemenangan
- 4Prediksi Skor Georgia vs Bahrain, 5 Juni 2026: Crusaders Ingin Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
- 5Daftar 15 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Mozambik di Jabodetabek pada FIFA Matchday Hari Ini, Selasa 9 Juni 2026
- 6Prediksi Skor Yunani vs Italia, 8 Juni 2026: Ujian Berat Generasi Baru Azzurri
- 7Daftar 33 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Oman di Jakarta dalam FIFA Matchday 2026 Hari Ini, Yuk Dukung Garuda!
- 8Prediksi Skor Slovakia vs Montenegro, 5 Juni 2026: Duel Sengit di Kosicka
- 9Ancol Sunset Sound: Cara Baru Menikmati Sunset di Jakarta Lewat Musik, Pantai, Kuliner, dan Staycation
- 10Dorong Pola Hidup Sehat dan Ekonomi Lokal, Bupati Tangerang Lepas Fun Run 5K Komunitas Wisata Kreatif 2026




