Jakarta

NOVEL BAG.75 : Apel ke Rumah Zainab

Sastra Yudha | 17 Agustus 2023, 01:47 WIB
NOVEL BAG.75 : Apel ke Rumah Zainab

 

SUATU sore. Saat hanya ada kami berdua di dalam angkot. Hanya ada aku dan Zainab. Aku sampaikan niatku.

"Zainab, boleh aku main ke rumahmu?"

"Om mau ketemu Abi saya?"

"Bukan. Aku mau ketemu kamu."

"Mau ngapain Om?"

"Main aja." kilahku. "Nggak boleh ya?"

"Boleh aja. Masa' orang mau main, nggak boleh."

Sabtu malam Minggu. Pekan kedua, bulan kelima, masehi. Pertama kali aku bertamu ke rumah Zainab. Rumah yang sangat sederhana. Berada di ujung gang yang sempit.

Baca Juga: Koalisi Ibukota Minta DPRD DKI Ingatkan Heru Budi Tak Remehkan Persoalan Polusi Udara

Nur Laila Yasmin, nama lengkapnya. Zainab merupakan nama panggilan. Ia lahir bulan delapan, tujuh tahun lebih muda dariku. Anak kelima dari delapan bersaudara.

"Nab, kok malam minggu di rumah aja. Memangnya nggak ada yang ngajak jalan?" tanyaku basa-basi.

"Nggak." Jawabnya singkat dan padat.

"Emang kamu tidak punya pacar?"

Zainab menggelengkan kepala. "Nggak boleh sama Abi."

Pertamuan yang singkat. Kurang dari satu jam. Diisi pembicaraan yang singkat pula. Tak ada basa-basi. Hanya saling mengenalkan diri.

Sabtu malam Minggu. Pekan keempat, bulan kelima, masehi. Ini kali kedua aku bertamu ke rumah Nur Laila Yasmin alias Zainab. Setelah kemarin sore, aku minta izin untuk datang di malam ini.

Seperti peremuan sebelumnya, Zainab menerimaku di ruang tamu. Ruangan yang sederhana. Tanpa hiasan. Tanpa hidangan.

Tuan rumah juga tampil apa adanya. Tanpa perhiasan. Tanpa riasan. Memang dasar cantik, biarpun bangun tidur ya tetap cantik.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, aku pun langsung tembak Zainab. "Neng, kamu kan nggak punya pacar. Mau nggak kalau jadi pacarku?"

"Maaf, aku kan sudah bilang, aku gak boleh pacaran."

Baca Juga: Libur HUT Kemerdekaan, Jalur Puncak Diberlakukan Gage dan One Way. Catat Tanggal dan Jamnya

"Lah, terus kalau mau nikah, gemana?"

"Ya nggak gemana-gemana." Jawabnya enteng. "Jodoh kan sudah ada yang ngatur."

"Iya sih. Tapi, kalau nggak dicari, mana ketemu jodohnya."

"Saya kan perempuan. Nunggu aja. Kalau saatnya tiba, pasti jodohnya datang sendiri."

"Bagaimana kalau ternyata, takdir jodoh kamu adalah aku?"

"Kalau memang jodoh, ya....nggak tau deh"

"Biar tahu kita jodoh atau nggak, gemana caranya?"

"Kata orang-orang sih, jodoh itu punya wajah mirip."

"Ah, aku sih nggak percaya. Mitos itu."

"Nggak percaya, ya terserah."

"Supaya tahu kita jodoh atau nggak, gaimana kalau aku lamar kamu?"

"Ngelamar? Kenal aja, baru kemarin. Mau main lamar-lamar aja."

"Kan kamu bilang, kalau jodoh itu datang sendiri. Nah, sekarang saya sudah datang."

Baca Juga: Jadi Pelajaran, Konten Kreator Diminta Koordinasi Dahulu sebelum Aksi

"Ih, maksa." jawabnya sedikit ketus.

"Tapi bakal diterima atau nggak?"

"Nggak tahu. Tanya aja sendiri sama Abi."

"Kasih tahu Abimu ya...! Minggu depan aku mau melamar kamu."

"Au ah, gelap."

"Aku serius loh...!" kataku. "Aku juga nggak mau pacar-pacaran. Kalau jodoh, kita langsung nikah aja."

Kali ini, Zainab hanya terdiam. Ia sedang berpikir keras. Sepertinya, ia melihat keseriusanku. Aku sungguh-sungguh. Tidak sedang bercanda.

"Terserahlah...!" (Bersambung)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.