Jakarta

Emak-emak Menjerit! Harga Cabai Rawit Melejit Tembus Rp 90.000 per Kg, Ternyata Ini Penyebabnya

M Rahman Akurat | 14 September 2026, 10:37 WIB
Emak-emak Menjerit! Harga Cabai Rawit Melejit Tembus Rp 90.000 per Kg, Ternyata Ini Penyebabnya
Ilustrasi - Harga cabai keriting dan rawit merah meroket.

AKURAT JAKARTA — Kabar kurang mengenakan bagi para Ibu Rumah Tangga dan pelaku usaha kuliner. Harga cabai rawit di tingkat konsumen dilaporkan mengalami kenaikan tajam hingga menembus angka Rp 90.000 per kilogram.

Lonjakan harga yang signifikan ini dipicu oleh cuaca panas ekstrem yang mengganggu ketersediaan air di berbagai wilayah sentra produksi.

Berdasarkan data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia (BI), kenaikan paling tajam dialami oleh komoditas cabai merah keriting. Harganya melesat hingga 9 persen menjadi Rp 62.950 per kilogram.

Baca Juga: Honda Hadirkan Supra X Cross 125, Motor Harian Canggih dengan Kelincahan Tingkat Tinggi di Segmen Motor Bebek Tangguh

Tidak mau ketinggalan, harga cabai rawit merah juga ikut melonjak sebesar 7,2 persen dan kini bertengger di level Rp 90.050 per kilogram.

Dampak El Nino dan Krisis Air di Tingkat Petani

Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia, Tunov Mondro Atmojo, mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga ini sebenarnya sudah mulai dirasakan di tingkat petani sejak pertengahan Agustus lalu.

Menurutnya, faktor utama di balik meroketnya harga komoditas pedas ini adalah krisis ketersediaan air yang dipicu oleh cuaca sangat panas akibat fenomena El Nino.

"Penyebab kenaikan ini disebabkan karena murni faktor cuaca dan mengakibatkan ketersediaan air habis. Tanaman cabai yang telah petani tanam akhirnya hanya mengandalkan tanaman eksisting yang sedang berproduksi," ujar Tunov, pada Minggu (13/9/2026).

Kondisi kekeringan yang parah tanpa pasokan air yang cukup membuat pohon cabai mengalami gagal bunga. Dampaknya, tanaman berhenti memproduksi bunga baru dan petani hanya mampu merawat sisa cabai yang masih bertahan di pohon.

Baca Juga: Gunung Bromo Tutup Sementara Akibat Kebakaran, Tiket Wisata Bisa Reschedule atau Refund

Stok Cabai Nasional Terancam Langka dalam 3 Bulan ke Depan

Tunov juga menyebutkan bahwa ancaman penurunan produksi saat ini sangat terasa di tingkat produsen.

Upaya para petani untuk melakukan penanaman kembali (replating) kerap kali menemui kegagalan, karena bibit cabai tidak dapat bertahan hidup tanpa pasokan air yang memadai.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap pasokan pangan nasional dalam jangka menengah. Jika cuaca ekstrem terus berlanjut, kelangkaan stok diprediksi akan menjadi masalah serius.

"Keadaan cuaca seperti ini sangat mengkhawatirkan. Stok nasional diprediksi akan terus berkurang nanti di 3 bulan ke depan," tambah Tunov.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.