Bukan Sekadar Rompi, Teknologi Buatan Mahasiswa UB Ini Coba Tahu Kapan Anak dengan ASD Mulai Tantrum

AKURAT JAKARTA - Tantrum pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) tidak selalu mudah diprediksi.
Ketika rangsangan sensorik terasa berlebihan, respons yang muncul dapat berupa menangis, berteriak, menendang hingga perilaku agresif.
Kondisi inilah yang coba diantisipasi lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) melalui sebuah rompi pintar bernama ADAPT-V.
Alih-alih menunggu anak memasuki kondisi tantrum, ADAPT-V dirancang untuk mengenali tanda-tanda perubahan kondisi anak secara otomatis.
Teknologi wearable tersebut memanfaatkan sensor, kecerdasan buatan, hingga sistem tekanan udara untuk memberikan respons menenangkan ketika indikator tantrum mulai terdeteksi.
Inovasi ini dikembangkan mahasiswa dari lintas bidang, yakni Psikologi dan Teknik Elektro UB.
Mereka menggabungkan pemahaman mengenai kondisi emosional anak dengan teknologi untuk menghasilkan perangkat yang diharapkan dapat membantu orang tua maupun terapis menghadapi situasi tantrum.
Salah satu persoalan dalam menangani tantrum adalah respons sering kali baru diberikan ketika anak sudah berada dalam kondisi emosional yang sulit dikendalikan.
ADAPT-V mencoba mengambil pendekatan berbeda dengan mendeteksi perubahan kondisi anak secara real-time.
Anggota tim dari Program Studi Psikologi UB, Muhammad Nafis Khilmi, menjelaskan bahwa anak dengan ASD dapat mengalami kesulitan dalam memproses rangsangan sensorik.
Baca Juga: Pendaki Merbabu Harus Menunggu, Ada Pembenahan di Jalur Menuju Kenteng Songo
Kondisi tersebut kemudian dapat memicu respons emosional yang intens.
"Anak dengan ASD sering kali mengalami kesulitan dalam memproses rangsangan sensorik, yang dampaknya bisa memunculkan perilaku menangis, berteriak, menendang, hingga tindakan agresif yang membahayakan dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar," kata Muhammad Nafis Khilmi, dikutip melalui keterangan UB, ditulis Rabu (26/8/2026).
Dari persoalan tersebut, tim mengembangkan ADAPT-V dengan pendekatan Deep Pressure Therapy (DPT).
Metode ini memberikan tekanan terkontrol pada tubuh yang diharapkan dapat menghadirkan sensasi nyaman menyerupai pelukan.
Tekanan tersebut tidak diberikan secara sembarangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!






