Kepung Indonesia, BMKG Petakan 13 Zona Megathrust dengan Potensi Gempa Hingga M 9,2

AKURAT JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali memberikan peringatan serius mengenai ancaman geologi di tanah air.
Berdasarkan pemetaan terbaru, terdapat sedikitnya 13 titik zona megathrust yang mengepung wilayah Indonesia, menyimpan potensi energi gempa dahsyat yang dapat memicu tsunami sewaktu-waktu.
Secara geologis, Indonesia berada di titik pertemuan tiga lempeng tektonik besar dunia, yakni Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia.
Interaksi aktif antar lempeng inilah yang membentuk zona megathrust—wilayah di mana satu lempeng menyusup ke bawah lempeng lainnya, menciptakan akumulasi energi besar akibat gesekan yang tertahan.
Adapun dalam keterangannya pada Minggu (4/1/2026), BMKG memberikan perhatian khusus pada fenomena seismic gap, yakni wilayah yang sudah sangat lama tidak melepaskan energi gempa besarnya.
Dua zona yang menjadi sorotan utama adalah Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa Megathrust Selat Sunda terakhir kali memicu gempa besar pada tahun 1757, sementara segmen Mentawai-Siberut tidak menunjukkan aktivitas signifikan sejak 1797.
Jeda waktu yang mencapai ratusan tahun ini menandakan adanya penumpukan energi yang masif dan nyata, yang sewaktu-waktu dapat terlepas dalam bentuk guncangan bermagnitudo besar.
Daftar Zona dan Potensi Kekuatan Gempa
BMKG merinci 13 segmen megathrust yang tersebar dari ujung barat Sumatra hingga Papua dengan potensi kekuatan maksimum yang bervariasi:
1. Aceh-Andaman: Potensi M 9,2
2. Mentawai-Siberut & Mentawai-Pagai: Potensi M 8,9
3. Nias-Simeulue & Selat Sunda: Potensi M 8,7
4. Jawa (Barat, Tengah, Timur) & Papua: Potensi M 8,7
5. Sumba & Sulawesi Utara: Potensi M 8,5
6. Enggano: Potensi M 8,4
7.Filipina: Potensi M 8,2
8. Batu: Potensi M 7,8
Mitigasi sebagai Langkah Kunci
Meski ancaman ini nyata, BMKG menegaskan bahwa pengumuman daftar zona megathrust bukan bertujuan untuk menciptakan kepanikan massal di masyarakat.
Informasi ini dirilis sebagai fondasi krusial bagi pemerintah daerah dan pusat dalam menyusun mitigasi bencana nasional.
Langkah-langkah strategis yang ditekankan mencakup perencanaan tata ruang yang berbasis risiko bencana, penerapan standarisasi bangunan tahan gempa yang ketat, serta penguatan sistem peringatan dini (early warning system) di sepanjang garis pantai yang rawan tsunami.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun meningkatkan kesiapsiagaan mandiri terhadap potensi bencana geologi ini. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








