Jakarta

Cabai Rawit Merah di Jakarta Makin Melonjak, Grosir Tembus Rp51 Ribu per Kg, Ini Penyebabnya

Laode Akbar | 10 September 2026, 20:03 WIB
Cabai Rawit Merah di Jakarta Makin Melonjak, Grosir Tembus Rp51 Ribu per Kg, Ini Penyebabnya
Ilustrasi pedagang cabai

AKURAT JAKARTA – Harga cabai rawit merah di DKI Jakarta mengalami kenaikan, baik di tingkat grosir maupun eceran. Kenaikan harga tersebut terjadi secara antarminggu maupun antarbulan.

Berdasarkan laporan perkembangan harga Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, harga cabai rawit merah di tingkat grosir secara antarminggu naik 26,22 persen atau Rp10.714 per kilogram.

Harga cabai rawit merah di tingkat grosir kini mencapai Rp51.571 per kilogram. Sementara di tingkat eceran, harganya naik 8,13 persen atau Rp4.919 menjadi Rp65.426 per kilogram.

Baca Juga: DBH Rp11,2 Triliun Belum Dibayar, Legislator Golkar Dimaz Raditya Dorong Jakarta Perkuat Kemandirian Fiskal

Adapun secara antarbulan, harga cabai rawit merah di tingkat grosir melonjak 30,56 persen menjadi Rp41.686 per kilogram. Sedangkan harga di tingkat eceran meningkat 3,03 persen menjadi Rp60.153 per kilogram.

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengatakan, kenaikan harga cabai rawit merah tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di sejumlah daerah lainnya.

Menurutnya, kenaikan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor teknis dan kondisi alam. Salah satunya penurunan luas tanam cabai rawit merah pada periode Februari hingga Juli 2026 sebesar 14 persen.

Penurunan luas tanam tersebut kemudian berdampak terhadap produksi cabai pada periode Agustus hingga Desember 2026.

"Hal tersebut berimbas pada pasokan cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati pada minggu kelima Agustus 2026 yang turun 10,4 persen, dari 144 ton menjadi 129 ton," ungkap Hasudungan, Selasa (8/9/2026).

Selain penurunan luas tanam, Hasudungan menyebut kondisi puncak musim kemarau turut menjadi salah satu penyebab berkurangnya produksi cabai.

Kondisi tersebut membuat tanaman kekurangan air sehingga pertumbuhannya terhambat. Bunga tanaman juga menjadi rontok dan perkembangan buah cabai tidak optimal.

"Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar minyak turut memicu peningkatan biaya operasional produksi dan distribusi pangan," ujarnya.

Untuk mengantisipasi kenaikan harga semakin tinggi, Pemprov DKI Jakarta menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga kestabilan harga dan pasokan cabai rawit merah.

Salah satunya melalui pengembangan pertanian perkotaan. Sepanjang 2026, lahan yang telah ditanami cabai rawit merah mencapai 11,46 hektare dengan hasil panen sebanyak 45,59 ton.

Dinas KPKP DKI Jakarta juga menggelar pelatihan diversifikasi olahan cabai dan bawang di seluruh kota dan kabupaten administrasi.

Selain itu, Pemprov DKI melalui Perumda Pasar Jaya menyediakan cabai rawit merah dalam kegiatan pangan murah keliling.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh cabai dengan harga yang lebih terjangkau di tengah kenaikan harga komoditas tersebut.

"Pemprov DKI melalui Perumda Pasar Jaya turut menyediakan komoditas cabai rawit merah dalam kegiatan pangan murah keliling untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses pangan dengan harga terjangkau," tandasnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

L
Reporter
Laode Akbar
Y