Tamu Hotel Paling Dibenci, Si “Perundung Check-in” yang Bikin Staf Ketar-ketir

AKURAT JAKARTA - Industri perhotelan memang dikenal penuh keramahan dan pelayanan prima.
Namun, di balik senyum sopan para staf, ada satu tipe tamu yang paling dihindari.
Mereka dikenal dengan sebutan “Perundung Check-in” — sosok yang membuat suasana resepsionis berubah tegang dalam sekejap.
Baca Juga: 10 Cara Ampuh Atasi Mood Swing Saat PMS, Biar Emosi Tetap Stabil dan Nggak Gampang Meledak
Para pekerja hotel menyebut tipe tamu ini sebagai mimpi buruk karena kerap bersikap arogan, menolak antre, dan menuntut pelayanan berlebihan seolah dunia berputar hanya untuk mereka.
Tamu jenis ini sering merasa dirinya paling penting dan pantas mendapat perlakuan istimewa.
Mereka tidak segan menaikkan nada bicara ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Baca Juga: Dari Yunani ke UEA: Deretan Hukum Internasional Paling Aneh tapi Nyata
Kalimat seperti “Tahukah Anda sudah berapa malam saya menginap di sini? Hubungi manajer Anda sekarang!” menjadi senjata andalan mereka untuk menekan staf.
Sikap semacam ini tidak hanya menciptakan suasana tidak nyaman bagi pekerja hotel, tetapi juga bagi tamu lain yang kebetulan menyaksikannya.
Fenomena perilaku buruk tamu seperti ini rupanya makin sering terjadi.
Baca Juga: 10 Wisata Gratis di Jakarta yang Bikin Kamu Serasa Liburan Mewah Tanpa Keluar Uang
Berdasarkan survei Hotels.com pada Maret 2025, kecerobohan dan pelanggaran etika di hotel terus meningkat.
Beberapa perilaku yang paling sering muncul antara lain: bertelanjang kaki di area umum (94%), mengenakan jubah mandi di luar kamar (92%), menunjukkan kemesraan di tempat umum (86%), hingga memonopoli kursi di kolam renang (60%).
Pakar etiket perjalanan, Rachel Wagner, menyebut sikap tersebut muncul karena kurangnya rasa tanggung jawab terhadap properti dan orang lain.
Baca Juga: 5 Tips Liburan Nyaman Bareng Orang Tua, Biar Momen Bersama eluarga Jadi Tak Terlupakan
“Itu sikap yang menganggap, ‘Ini bukan milikku, jadi aku tak peduli’,” ujarnya, dikutip dari USA Today.
Namun, dampak terburuk justru dirasakan oleh staf hotel.
Studi oleh Grandey dkk. (2007) menunjukkan bahwa perundungan terhadap karyawan hotel dapat berupa kata-kata kasar, teriakan, bahkan pelecehan seksual.
Tidak sedikit staf yang mengalami tekanan emosional akibat perilaku tamu seperti ini.
Untuk menghadapi situasi tersebut, pakar perilaku Thomas Plante menyarankan agar staf tidak bereaksi secara emosional.
Menurutnya, sikap tenang dan hormat bisa mencegah konflik menjadi lebih besar.
Baca Juga: Nggak Selalu Salah! 7 Alasan Balikan Sama Mantan Bisa Jadi Langkah Tepat
Sementara Abbe Depretis dari Carnegie Mellon University menekankan pentingnya komunikasi efektif agar ketegangan bisa diredakan dengan elegan.
Jadi, lain kali kamu menginap di hotel, ingatlah bahwa keramahan para staf bukan alasan untuk bertindak seenaknya.
Sedikit empati bisa membuat pengalaman menginapmu dan orang lain menjadi jauh lebih menyenangkan. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







