Jakarta

Tekan Penularan, Puskesmas Cisoka Tangerang Gencarkan Skrining TBC Massal

M Rahman Akurat | 6 Oktober 2026, 07:19 WIB
Tekan Penularan, Puskesmas Cisoka Tangerang Gencarkan Skrining TBC Massal
Petugas Dinkes Kabupaten Tangerang gencarkan Skrining TBC - (Diskominfo)

AKURAT JAKARTA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang melalui Puskesmas Cisoka menggelar aksi nyata dalam memerangi penyakit menular dengan mengadakan skrining Tuberkulosis (TBC) massal.

Kegiatan deteksi dini ini dilaksanakan di Aula Masjid Jami' Ar-Rohman, Perumahan Puri Harmoni Cisoka 3 pada Senin (5/10/2026).

Langkah ini diambil sebagai strategi proaktif untuk menemukan kasus TBC di masyarakat secara cepat dan menekan angka penularan.

Baca Juga: Sejarah Baru! Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Tumbangkan Thailand Lewat Drama Penalti

Pentingnya Deteksi Dini dan Kenali Gejala TBC

Kepala Puskesmas Cisoka, drg. Reta Rianti, menegaskan bahwa skrining TBC merupakan instrumen krusial dalam memutus mata rantai penularan. Melalui deteksi yang lebih cepat, penanganan medis dan pemberian obat dapat segera disalurkan kepada warga yang terkonfirmasi positif.

Menurut drg. Reta, masyarakat harus waspada terhadap indikasi awal penyakit ini. Gejala TBC yang umum meliputi:

  • Batuk berkepanjangan selama lebih dari tiga minggu

  • Tubuh terasa lemas dan mudah lelah

  • Terjadi penurunan berat badan secara drastis

  • Menurunnya nafsu makan secara signifikan

"Jika mengalami gejala-gejala tersebut, masyarakat diharapkan segera memeriksakan diri ke puskesmas terdekat agar mendapat penanganan medis yang tepat," imbaunya.

Baca Juga: Mahasiswa S2-S3 yang Sedang Mengejar Kelulusan Bisa Dapat Dana hingga Rp25 Juta dari Kemenag-LPDP

Metode TCM dan Prosedur Pengobatan TBC 6 Bulan

Bagi warga yang menunjukkan gejala klinis, Puskesmas Cisoka menerapkan metode pemeriksaan dahak modern menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM).

Langkah ini menjamin hasil diagnosis yang lebih akurat dan cepat dibandingkan metode konvensional.

Apabila hasil TCM menyatakan pasien positif bakteri Mycobacterium tuberculosis, pasien akan langsung masuk ke dalam program tata laksana pengobatan formal.

"Pengobatan TBC dilakukan secara intensif selama enam bulan dengan pengawasan minum obat yang ketat. Kami juga melakukan monitoring rutin melalui kunjungan rumah (home visit) untuk memastikan pasien mengonsumsi obat secara tuntas dan tidak putus obat," jelas drg. Reta.

Selain fokus pada penyembuhan pasien, tim medis juga melakukan pelacakan kontak erat terhadap anggota keluarga maupun tetangga sekitar guna meminimalisir risiko klaster penularan baru.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.