Jakarta

Waspada Peredaran Daging Impor Kedaluwarsa Jelang Lebaran, Bareskrim Sita Barbuk 9,5 Ton

Yusuf Doank | 11 Maret 2026, 09:59 WIB
Waspada Peredaran Daging Impor Kedaluwarsa Jelang Lebaran, Bareskrim Sita Barbuk 9,5 Ton
Ilustrasi

AKURAT JAKARTA - Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri berhasil menggagalkan upaya peredaran sekitar 9,5 ton daging beku impor kedaluwarsa di wilayah Cikupa, Kabupaten Tangerang.

Daging tidak layak konsumsi tersebut diduga kuat akan didistribusikan ke sejumlah pasar tradisional guna memanfaatkan tingginya permintaan menjelang Hari Raya Idulfitri.

Kasat Resmob Bareskrim Polri, Kombes Teuku Arsya Khadafi, menyatakan bahwa pengungkapan ini merupakan hasil pengembangan informasi masyarakat terkait adanya aktivitas distribusi pangan berbahaya.

Baca Juga: 4 Tips Berkendara Saat Hujan agar Tetap Aman di Jalan, Banyak Pengendara Masih Mengabaikan

Dalam operasi tersebut, petugas mengamankan tiga unit truk yang memuat daging busuk tersebut.

"Kami tengah mendalami kemungkinan adanya jaringan distribusi lain. Praktik ini sangat membahayakan kesehatan masyarakat, terutama di tengah persiapan menyambut Lebaran," kata Arsya di Tangerang, Senin (9/3/2026).

Arsya menjelaskan, pelaku diduga sengaja menyasar pasar-pasar tradisional untuk mengelabui konsumen. Polisi telah mengamankan sejumlah terduga pelaku yang terlibat dalam rantai distribusi ini untuk pemeriksaan lebih lanjut di markas Bareskrim Polri.

Kanit 1 Satresmob Bareskrim Polri, Kompol Harry Azhar Hasry, menambahkan bahwa kepolisian kini memperketat pengawasan pangan di pintu-pintu masuk distribusi.

Langkah ini diambil untuk mengantisipasi oknum yang mencari keuntungan pribadi dengan mempertaruhkan keselamatan publik.

"Informasi ini berawal dari laporan warga. Kami berkomitmen memastikan pasar tradisional tetap steril dari produk pangan berbahaya agar masyarakat dapat merayakan Idulfitri dengan rasa aman," tegas Harry.

Pihak kepolisian mengimbau warga agar lebih teliti dalam membeli daging di pasar, terutama jika harga yang ditawarkan jauh di bawah harga normal.

Saat ini, penyidik masih mengejar kemungkinan adanya gudang penyimpanan lain yang digunakan oleh jaringan ini.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y