NOVEL BAG.98 : Sekelumit Kisah Rumah Tangga Fathia

LIMA tahun lalu. Fathia memilih meninggalkanku. Menuruti kehendak mamanya. Yang menikahkan dia dengan seorang pengusaha travel. Yang usianya dua kali lipat dari usia Fathia. Ngakunya seorang duda. Nyatanya, Fathia jadi istri kedua.
Fathia, aku sudah terlalu pudar untuk mengingat masa lalu itu. Tentang kita yang pernah bersatu, sampai kenyataan membentengi antara kau dan aku.
Aku pun yakin, kamu juga sudah lama melupakan kenangan kita itu. Mungkin dalam benakmu sudah terkubur dan tak lagi ingin kau ziarahi.
Hidup memang begitu keras. Dan Tuhan telah menetapkan takdir-Nya pada kita semua. Aku berpikir, kamu beruntung setelah kepergianku. Kamu menikah dengan laki-laki kaya dan tampan. Meskipun sudah tua, tapi dia seorang pengusaha.
Sedangkan aku, laki-laki jelek dan miskin yang terus mengembara, menjemput takdir. Mencari perempuan yang ikhlas menerimaku apa adanya.
Baca Juga: Polisi Ungkap Kasus Pesta Seks, Gunakan Media Sosial sebagai Sarana Undangan
Pernah terbayang dalam benakku, bisa jadi sebuah harapan atau mungkin saja kemustahilan. Kau memikirkan kabarku, diam-diam mencaritahu hidupku, akhirnya kita ketemu dan merajut kembali cinta kita yang telah mati.
Bisa saja aku datang padamu dengan seikat uang dan membawamu lari dari suamimu. Namun hidupku tak sepicik itu. Sekalipun dunia telah terbalik dan aku pun sudah memilih jalan hidupku.
Semua jejak itu terekam baik di pikiranku. Mengulang kembali. Di saat aku menemani Fathia, yang terluka karena kepergian mamanya. Pergi untuk selamanya. Di saat ia butuh seorang laki-laki yang bisa membuatnya tegar dalam menghadapi jalan hidup.
“Hidup sebagai istri kedua secara sah tak begitu membahagiakan. Uang bukan segalanya. Justru karena uang, hidupku jadi berantakan. Aku dicerai karena desakan istri pertamanya. Nyatanya, dia belum sepenuhnya menjadi duda,” Fathia memulai ceritanya.
“Sebenarnya, aku ingin menemuimu sejak lama. Aku mencarimu ke mana-mana. Begitu sulitnya aku menemukanmu, sampai akhirnya kuketahui kau telah menikah dengan Michaella. Aku tak berani menemuimu setelahnya.”
Aku tak banyak bicara. Dia pun tak pernah menggoda. Begitu ceritanya. Lelaki memang bajingan. Aku pun mengakui, hakikatku sebagai lelaki. Tapi baiknya, aku tak pernah menuruti naluri kelakianku.
Baca Juga: Tim Forensik Telusuri Waktu Kematian Ibu dan Anak di Depok
“Setelah bercerai, aku kembali menyendiri. Belum menemukan yang sesuai selera hati. Untungnya, aku belum punya anak. Kini aku bebas. Sampai aku menemukan pengganti dirimu.”
Ia menyelesaikan ceritanya, juga tangisannya.
"Aku pun sama. Michaella telah meninggalkanku. Dia telah kembali ke negerinya," kataku.
"Tapi, kini aku telah menemukan kembali tambatan hatiku. Dia adalah Nur Laila Yasmin. Gadis keturunan Arab yang dulu pernah kita lihat di rumah Haji Taufik. Masih ingat kan?"
"Yang mana ya?" tanya Fathia setengah terperanjat.
"Yang mirip Zainab Si Doel."
"Oh, itu. Yang kamu bilang anak kecil itu?"
Suasana duka itu telah pergi. Bernostalgia dengan masa lalu, membuat Fathia sesaat melupakan kesedihan karena ditinggal ibu adopsinya untuk selama-lamanya.
Baca Juga: Keras, Jokowi Minta Ada Terobosan dalam Tangani Kasus Penyalahgunaan Narkoba
Cerita masa-masa indah dulu, ketika kami merajut cinta, tenggelam dalam asmara, menghadirkan senyum di wajah Fathia.
"Kami sudah dikaruniai satu anak. Putri yang cantik. Mirip ibunya," kataku.
"Beruntungnya kamu Rahman."
"Iya. Tapi, sekarang kami sedang dapat ujian dari Allah. Istriku sakit keras. Bahkan dokter bilang, kesempatan hidupnya tinggal fifty-fifty."
"Ya Allah....Sakit apa?"
"Kanker paru-paru."
Tak terasa, mobil yang kami tumpangi telah sampai di rumah duka. Aku turun. Aku pamitan.
Aku pulang. Aku ucapkan selamat tinggal kepada wanita yang pernah menjadi calon istriku itu. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







