Mengapa Kembang Kelapa Jadi Ikon Kebudayaan Betawi? Begini Sejarahnya

AKURAT.CO - Kembang Kelapa atau Kembang Kelape, seni kerajinan tradisional khas Betawi, salah satu ikon budaya yang harus dilestarikan.
Dalam Peraturan Gubernur Nomor 11 Tahun 2017, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan Kembang Kelapa sebagai salah satu dari 8 ikon Betawi.
Kembang Kelapa dahulu digunakan oleh masyarakat Betawi sebagai hiasan dalam berbagai acara perayaan keluarga, seperti pernikahan atau sunatan.
Bahkan, Kembang Kelapa juga menjadi bagian penting dalam dekorasi Ondel-ondel, ikon Betawi yang sangat terkenal.
Baca Juga: Gelar Tangerang Mangrove Jazz Festival 2023, Bupati Zaki Perkenalkan Destinasi Wisata Terbaru
Kerajinan ini umumnya terbuat dari lidi yang dihias dengan kertas atau plastik berwarna-warni, menciptakan bentuk yang menyerupai kelapa asli pada pohonnya.
Martin Maulia, seorang seniman muda dan pengrajin ornamen Betawi, mengatakan bahwa Kembang Kelapa adalah bagian dari warisan nenek moyangnya yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya sejak masa kecil.
Martin menjelaskan, setiap Kembang Kelapa memiliki makna dan filosofi besar.
Mereka mengajarkan tentang kegunaan bagi orang lain dan lingkungan sekitar, mirip dengan bagaimana pohon kelapa memberikan manfaat mulai dari akar hingga batok kelapanya.
Sejarah Kembang Kelapa juga mengungkapkan bahwa pohon kelapa dianggap sebagai simbol kemakmuran di tempat seperti Bandar Kelapa, yang sekarang menjadi Pelabuhan Sunda Kelapa.
Baca Juga: Generasi Z Penentu Kemenangan Pemilu 2024, Kandidat Harus Pandai Meraih Hatinya
Pohon-pohon kelapa di sana melambangkan kesuburan dan kemajuan masyarakat Betawi.
Selain itu, Jakarta sering disebut sebagai "Bumi Kelapa," yang berarti bahwa semua yang ada di sana harus mencerminkan kegembiraan, keterbukaan, saling tolong-menolong, dan kerja sama untuk mencapai kemakmuran.
Kembang Kelapa bukan hanya sebuah hiasan, tetapi juga simbol kemakmuran dalam setiap perayaan Betawi.
Jumlah batang Kembang Kelapa yang digunakan bervariasi, tetapi biasanya berkisar antara 60-75 batang per tiang penyangga.
Untuk Ondel-ondel, jumlahnya lebih kecil, sekitar 20-25 batang.
Meskipun modernisasi yang masif membuat melestarikan budaya Betawi semakin sulit, Martin Maulia bersama dengan masyarakat Betawi di seluruh Jakarta tetap berpegang pada tradisi ini.
Baca Juga: Polres Jaksel Amankan 10 Orang yang Hendak Tawuran di Jalan Rawajati Pancoran
Mereka menyadari pentingnya memperkenalkan dan melestarikan budaya Betawi kepada generasi muda melalui sosialisasi.
Kembang Kelapa, bersama dengan ikon budaya Betawi lainnya, telah diakui sebagai Warisan Budaya TakBenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2018.
Ini adalah langkah penting untuk melestarikan kekayaan budaya yang tak ternilai dari Betawi. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





