NOVEL BAG.94: Enam Lidi Aren Menancap di Paru-paru Istriku. Kok Bisa?

MINGGU malam. Aku sudah bersiap-siap. Termasuk menyiapkan telor rebus sepuluh butir. Bersama kedua mertuaku, kembali ke tempat Suhu. Seperti yang diminta kemarin lusa.
Aku penasaran. Hal ghaib apa yang menimpa istriku. Sama seperti yang lain, aku juga penasaran, siapa yang tega mencelakai istriku. Apa motifnya? Sakit hati atau balas dendam. Atau, istriku hanya salah sasaran.
Akhirnya, kami sampai di tempat Suhu. Sama dengan kunjungan sebelumnya. Kami antri tunggu panggilan. Setelah dipanggil, kami masuk.
"Silahkan duduk," kata Suhu.
"Gemana, Bu? Sudah baikan?" lanjutnya.
"Iya. Sudah kurangan batuknya," jawab istriku.
"Bawa telornya?"
"Bawa, Suhu." Aku menyerahkan sekantong plastik telor rebus ke Suhu.
"Taruh situ aja." Suhu menunjuk meja kecil di depan istriku. Aku meletakkan telor di atas meja kecil itu.
Baca Juga: Selain Vonis 12 Tahun Penjara, Mario Dandy Dihukum Restitusi Rp 25 Miliar
Terapi pengobatan dimulai. Suhu menyuruh istriku sedikit maju. Duduknya bergeser satu meter ke depan.
"Bu, tolong pegang satu butir telor yang ibu bawa tadi, dan tempelkan ke dada ibu yang sebelah kanan," perintah Suhu.
Istriku menempelkan sebutir telor rebus ke dadanya. Lalu, Suhu memegang punggung sebelah kanan istriku.
"Tarik napas dalam-dalam, sambil baca shalawat dalam hati ya, Bu...!" perintahnya lagi.
Suhu mulai ambil tenaga dalam. Mulutnya komat-kamit baca do'a. Lalu, jari telunjuk dan jari tengahnya menekan punggung istriku. Ssstt...selesai.
"Ganti telornya, Bu. Sekarang tempel ke dada sebelah kiri."
Begitulah seterusnya. Bergantian, kanan dan kiri. Sampai enam butir telor. Empat di kanan dan dua di kiri.
"Alhamdulillah, sudah selesai. Silahkan Ibu duduk lagi."
Istriku kembali duduk di tempat semula.
Baca Juga: Sejarah Jakarta: Asal Usul Tanah Kusir dan Legenda Tuan Tanah Berdarah Tionghoa
Suhu mengambil sebilah pisau. Lalu, mengambil sebutir telor yang tadi ditempel di dada istriku.
"Bapak-ibu, Alhamdulillah saya sudah keluarkan benda yang melukai paru-paru ibu.....siapa?"
"Laila Yasmin," jawabku.
"Ya, ibu Yasmin." Lanjut Suhu.
"Bendanya sekarang ada di dalam telor ini. Satu, satu. Setiap butir telor, ada satu. Ini saya belah satu saja, nanti sisanya silahkan dibuka di rumah atau dibuang saja," lanjutnya.
Suhu lalu membelah sebutir telor tadi. Isi telor telah berubah warna. Putih telornya berwarna kemerahan. Kuning telor berwarna hitam kecoklatan. Di tengahnya terdapat benda mirip paku. Panjangnya sekitar 3 cm. Suhu menyomot benda itu.
"Ini yang menancap di paru-paru ibu. Lidi Aren yang diruncingin. Jumlahnya ada enam. Empat menancap di paru-paru sebelah kanan, dan dua di paru-paru sebelah kiri," jelas Suhu.
"Astaghfirulloh al'adziiim....kira-kira siapa yang kirim santet itu, Suhu...?" tanya Bang Udin.
"Ada yang kirim. Tapi tak usah saya sebutkan."
"Kenapa, Suhu? Sebutkan saja. Bila perlu kita balas kirim santet ke dia. Biar dia tahu rasanya," Bang Udin sewot.
"Nggak boleh begitu, Pak Udin. Kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan. Kita serahkan balasannya kepada Alloh," jawab Suhu bijak.
"Maaf, Suhu. Kalau boleh, untuk sekedar tahu saja, kira-kira pelakunya siapa dan motifnya apa?" tanyaku.
"Maaf, saya tidak bisa memberitahu bapak. Karena nanti dapat menimbulkan sakit hati dan balas dendam."
"Iya, Suhu. Tolong kasih tahu kami siapa pelakunya. Kami janji, tak akan balas dendam. Hanya untuk perhatian kami, supaya ke depan lebih hati-hati," timpal ibu mertuaku.
"Kami janji, tak akan balas dendam," tegasku.
Baca Juga: Divonis 5 Tahun Penjara, Hakim Nyatakan Shane Lukas Bertindak dengan Kesengajaan
"Ada orang suruhan. Dikirim dari kulon, dari Banten. Sebenarnya yang ditarget itu bapak ini," kata Suhu, menunjuk aku.
"Targetnya suaminya. Tapi, karena suaminya nggak kena, jadi nyasar ke istrinya," jelasnya.
"Tapi, saya nggak merasa punya musuh, Suhu. Kira-kira orang yang kirim santet itu atas suruhan siapa, Suhu?" tanyaku.
"Maaf ya bapak-ibu. Sebenarnya saya tidak mau membuka siapa pelakunya. Yang jelas, orang yang nyuruh itu ada sakit hati dengan Bu Yasmin. Mungkin, pernah punya masa lalu."
"Namanya siapa, Suhu?" tanya ibu mertuaku.
Suhu tidak menjawab. Ia malah beres-beres. Lalu menyuruh stafnya memanggil pasien berikutnya.
Kami pun berpamitan. Dalam hati aku berkata; orang yang pernah punya masa lalu dengan istriku, berarti mantan pacarnya.
"Maaf ya bapak-ibu, saya hanya bisa bantu membuka tabir penutup ghaibnya. Selanjutnya, silahkan ditangani medis. Bawa ke rontgen. Nanti akan ketahuan sakitnya, dan diobati secara medis," pesan Suhu, saat kami bersalaman.
Baca Juga: Kemacetan Terjadi Selama KTT ASEAN, Heru Mohon Maaf
Kami pulang. Di sepanjang perjalanan pulang, di dalam mobil, ibu mertuaku terus mencecar istriku soal siapa pelaku. Berkali-kali istriku pun menjawab: tidak tahu.
Terkait telor yang belum dibuka, akhirnya Bang Udin yang memecahkannya. Sesaat mobil berhenti di pinggir jalan tol. Bang Udin membuka satu per satu telor rebus yang tadi digunakan Suhu untuk terapi.
Hasilnya, sama persis seperti telor yang dibelah Suhu. Putih dan kuning telor sudah berubah jadi hitam. Ada sebatang lidi aren, panjang 3 cm, dan masing-masing ujungnya telah diruncingkan.
Telor-telor itu dibuang di parit pinggir jalan tol. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







