Jakarta

NOVEL BAG.86 :Dibenci Keluarga dan Tetangga Mertua

Sastra Yudha | 28 Agustus 2023, 19:19 WIB
NOVEL BAG.86 :Dibenci Keluarga dan Tetangga Mertua

 

SUATU hari, aku berkunjung ke rumah mertua. Seorang pemuda, anak tetangga mertuaku, sedang duduk-duduk di teras rumah.

Setiap aku ke rumah mertua, aku pasti melewati halaman rumah pemuda ini. Masih bujangan. Tampang sih lumayan ganteng. Tapi, pengangguran. Itulah sebabnya, dia sering terlihat nongkrong-nongkrong saja. Tak ada kerjaan.

Sebagai pendatang baru, setiap aku melintas di depannya, aku selalu uluk salam dan bilang permisi. Tapi, dia tak pernah jawab salamku. Bahkan, dia selalu buang muka.

Anehnya, suatu hari dia ketemu ibu mertuaku. Dia bilang begini: "Bu Haji, kasih tau dong menantunya. Kalau lewat depan orang, mbok ya permisi. Paling tidak, kasih senyum. Jangan nyelonong aja. Punya mulut gak sih itu menantunya..!?"

Baca Juga: Dinas LH DKI Sebut Water Mist Lebih Efektif dari Penyemprotan Jalan, Ini Alasannya

Oleh ibu mertuaku, protes pemuda itu disampaikan ke istriku, Laila Yasmin. Lalu, istriku menyampaikan kepadaku.

Inilah kali pertama, istriku itu mau berbicara agak banyak kepadaku. Biasanya, hanya sepatah atau dua patah kata saja. Bicara seperlunya.

Esok harinya, aku sengaja mengantar istri sampai rumah mertua. Aku ingin jawab protes pemuda itu dengan aksi langsung.

Kebetulan, dia lagi nongkrong depan rumah. Aku berhenti sejenak di depan rumahnya.

"Assalamu'alaikum. Permisi Bang...! Numpang lewat."

Seperti biasa, pemuda itu langsung buang muka. Aku pun ulangi lagi uluk salam.

"Assalamu'alaikum, Bang."

Dia tetap diam tak bergeming.

"Assalamu'alaikum ....!" Suaraku lebih keras. "Woi...! Denger nggak sih? Bisu ya...!?"

Dia balik badan. Menatapku dengan penuh emosi. "Hei....Singkong Jawa..! Kalau mau lewat, ya lewat aja. Nggak usah teriak-teriak. Guwe nggak sudi lihat muka lu...! Ntar gwe kena pelet kayak Laila."

Baca Juga: Semprot Air di Jalan Ditegur Menkes, Heru Budi: Gampang, Kalau Tidak Boleh Kita Hentikan

Hampir saja tanganku memungut potongan batu bata di bawah kaki. Lalu, kulempar ke moncongnya yang nerocos menghinaku. Untung saja dia segera masuk rumah. Kalau nggak, mungkin emosiku terpancing dan aku khilaf menghajarnya.

Selidik punya selidik, ternyata pemuda ini pernah naksir Laila Yasmin. Tapi karena pengangguran, Laila tak meresponnya. Mungkin, ia sakit hati. Karena cewek Arab itu lebih memilih aku, yang jauh lebih jelek darinya.

Serangan bertubi-tubi dari keluarga dan tetangga itu, membuat Laila Yasmin makin tertekan. Bukan hanya pemuda satu itu yang keki kepadaku. Empat rumah berderet yang masih keluarganya itu, sangat tidak suka kepadaku. Entah apa dosa dan salahku, hingga membuat mereka membenciku.

Karena itu, Laila istriku pun minta untuk menghabiskan hari-harinya di rumah kontrakan saja. Ke rumah orangtuanya, cukup seminggu sekali saja. Aku turuti saja apa maunya. Yang penting, dia bahagia.

Baca Juga: Tawuran Antar Warga Pecah di Depok, Diduga Akibat Sengketa Penarikan Motor

Berkicaulah seperti burung. Berkicaulah dari hati. Tak usah hiraukan pandangan sekeliling. Terimalah dengan gembira pujian dan kebencian. Mereka datang untuk memberi panduan. (Jalaluddin Rumi).

Tinggal di kontrakan, dia mengaku lebih tenang. Menghabiskan hari-harinya dengan nonton televisi dan bersih-bersih rumah. Bahkan, mulai mau memasak makanan. Meski belum mau menemani suami makan. Apalagi suap-suapan.

Sebulan tinggal di rumah kontrakan yang baru, istriku tak datang bulan. Alhamdulillah, akhirnya aku akan dapat keturunan. Semoga anakku tak punya rupa yang mirip aku. Secara fisik, biarlah sepenuhnya mirip ibunya. Tapi soal otak dan kepandaian, harus seperti aku.

Aku senang bukan kepalang, karena akhirnya istriku hamil. Alhamdulillah, do'aku dikabulkan. Sujud syukur aku panjatkan. Aku akan segera menjadi ayah. (Bersambung)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.