Jakarta

NOVEL BAG.73 : Mulai dari Awal Lagi

Sastra Yudha | 14 Agustus 2023, 22:16 WIB
NOVEL BAG.73 : Mulai dari Awal Lagi

JADI Wartawan. Itulah profesiku kini. Sudah setengah tahun ini, aku beralih profesi jadi jurnalis. Sejak kepergian Michaella.

Aku tidak menggantikannya. Justru Michel tak suka aku memilih jadi wartawan. Dia menentang pilihanku. Dengan macam-macam alasan. Tapi, ini pilihanku.

Dari senyap, kini kembali senyap.

Aku tak peduli. Karena hidup adalah pilihan. Dan, setiap pilihan pasti ada konsekwensinya. Ketika pilihan sudah dijatuhkan, maka apapun konsekwensinya harus diterima.

Menjadi wartawan adalah impianku. Sejak aku jadi loper koran. Bagiku, jadi wartawan itu keren. Bukan karena gajinya. Kalau soal gaji, jelas lebih baik jadi dosen atau pegawai bank.

Baca Juga: Pengamat Nilai Pemerintah Tak Serius Tangani Masalah Polusi Udara

Aku pernah satu tahun jadi pegawai bank negara. Juga jadi dosen.

Mengapa aku pilih jadi kuli tinta?

Karena wartawan itu hebat. Wawasannya luas. Dia selangkah lebih tahu dulu, ketimbang orang lain.

Jadi wartawan itu enak. Makan gratis, jalan-jalan gratis, nonton konser gratis, sering ketemu tokoh penting.

Kerja wartawan itu dinamis. Tidak monoton di kantor. Tidak melulu berhadapan dengan komputer.

Jadi wartawan itu mencerdaskan. Buat dirinya sendiri, maupun masyarakat umum.

Jadi wartawan itu harus kritis. Karena media merupakan pilar keempat dalam membangun demokrasi.

Baca Juga: Kebakaran Halte Transjakarta Tendean Diduga Akibat Korsleting Listrik

Namun sejatinya, profesi apapun bila dijalani dengan penuh cinta, maka akan terasa nikmatnya. Karena cinta bisa mengubah segalanya.

"Selamat siang. Pos...pos...!"

Aku buka pintu. Sepucuk surat diserahkan padaku. Kubuka. Pengirimnya adalah ayahku. Kubaca. Ayah menanyakan kabarku. Juga soal kerja. Dia sama sekali tak menanyakan soal Fathia.

Apalagi soal Michaella. Karena tak satupun keluargaku yang tahu, soal hubunganku dengan Michel. Hingga hubungan kami berakhir.

"Rahman, ayah sudah mencarikan calon istri untukmu. Ada dua orang. Tinggal kamu pilih. Mau dengan Syarifah, anak bungsu Kyai Soleh, atau dengan Ai Choirunnisa, cucunya Haji Aceng?" tanya ayahku, dalam suratnya.

Syarifah. Aku tahu. Dulu, lima tahun lalu. Saat aku mondok, dia masih sekolah tsanawiyah. Postur tubuhnya memang tinggi. Kulitnya hitam manis. Saat ini, dia sedang mondok di Banyuwangi, Jawa Timur.

Baca Juga: Banyak yang Belum Tahu, Ini 10 Manfaat Kentang untuk Kesehatan

Sedangkan Ai Choirunnisa, aku tak kenal. Haji Aceng, aku kenal. Juragan beras, teman bapakku. Tapi cucunya, aku tak kenal. Jangankan cucunya, anaknya pun aku tak kenal.

"Ibumu sudah nembung ke Bu Nyai. Kalau Rahman mau, insya'alloh direstui. Bapak juga sudah bicara sama Haji Aceng. Dia sudah setuju. Bapaknya Ai juga sudah setuju. Tinggal kamu bicara dengan Ai. Sekarang dia kuliah di Akademi Perawat (Akper) di Bandar Lampung. Ini bapak bawain photonya dan nomor telephon."

Aku lihat photonya. Boleh juga. Cantik, putih, tinggi. Calon perawat. Pasti pintar merawat suami dan anak-anakku kelak.

Tanpa buang-buang waktu, aku langsung menghubungi nomor teleponnya.

"Halo...Assalamualaikum. Apakah saya bisa bicara dengan Ai Choirunnisa?"

"Waalaikum salam. Ya, betul. Saya Ai.. Ini siapa ya?"

"Saya Rahman. Anaknya Pak Bandi. Ayahku dan kakekmu, berteman baik."

"Iya, ada apa ya Mas?"

"Nggak ada apa-apa sih. Cuman pengen kenalan saja. Saya dapat nomor telepon kamu dari ayahmu."

"Oh, oke. Terima kasih."

"Sama-sama."

Hanya sampai situ. Maklum, komunikasi pertama. Aku masih canggung dan bingung. Aku harus bagaimana?

Baca Juga: Pengamat: Uji Emisi Lebih Cocok Atasi Polusi Udara Dibanding WFH

Aku harus menyusun kata-kata, agar maksud dan tujuanku bisa tersampaikan dengan baik dan mudah dicerna.

Dua hari kemudian. Aku kembali menghubungi nomor telephon Ai.

"Assalamualaikum. Ai, maaf aku mengganggu waktumu."

"Wa'alaikum salam. Nggak apa-apa, Mas. Nggak ganggu kok. Kebetulan aku lagi istirahat."

"Ai...!" Sapaku.

"Iya, Mas." Jawabnya.

"Apakah kamu mau jadi teman dekatku?" Aku langsung tembak aja. To the point.

"Teman dekat? Emangnya Mas Rahman tinggal di mana? Di Bandar Lampung?" jawabnya, setengah bercanda.

"Aku tinggal di Jakarta. Sedang menyelesaikan S2 di UI."

"Ooh, di Jakarta. Datang aja ke Bandar, Mas. Biar bisa jadi dekat. He...he..."

"Oh, itu pasti. Setelah kita jadi teman dekat, pasti aku akan sering datang ke Bandar. Bila perlu, seminggu sekali."

"Maksudnya?"

"Ya, kita jadian dulu."

"Pacaran, gitu?"

"Ya, semacam itulah. Atau kita, langsung tunangan."

"Hah...! Apa? Tunangan? Kenal aja baru lewat telepon. Aku belum tahu, siapa itu Mas Rahman. Masak ujug-ujug langsung tunangan."

"Terus, aku mesti gemana dong?"

"Kirim data diri dan photo sebadan ya."

"Oke. Siap." Jawabku. "Terima kasih sudah memberi kesempatan."

Dua minggu setelah aku kirim surat. Aku telephon Ai lagi.

"Assalamualaikum."

"Wa'alaikum salam."

"Ai, apa suratku sudah sampai ke tanganmu?"

"Sudah. Tiga hari lalu."

"Bagaimana jawabanmu? Apa kamu bersedia jadi teman dekatku?"

"Hmmm....maaf ya, Mas. Ai sudah punya pacar."

Dug...! Seperti dugaanku, dia pasti akan menolak cintaku.

Aku maklum. Siapapun wanita, kalau hanya melihat diriku dari fisik saja, pasti tidak mau.

"Tapi kan, orangtua kita sudah menjodohkan aku dengan kamu..!?"

"Dijodohin...?" Jawabnya keheranan. "Emangnya zaman Siti Nurbaya, pakai dijodohin segala. Aku masih bisa cari suami sendiri kok, Mas."

"Oke, kalau begitu. Terima kasih, ya."

Segera aku balas surat ayahku. Agar beliau tak lama menunggu.

Kandas. Cintaku kandas lagi. Untuk yang ke sekian kali.

Soal Syarifah, nanti sajalah. Pilihan terakhir. Sebab, aku tahu resikonya; harus tinggal di kampung dan meneruskan mengelola pondok pesantren. (Bersambung)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.