Inovasi Uiversitas Brawijaya Ubah Eceng Gondok Jadi Probiotik untuk Ikan Lele

AKURAT JAKARTA - Eceng gondok yang tumbuh di perairan kerap dianggap sebagai masalah lingkungan.
Namun, tanaman air ini ternyata dapat diolah menjadi produk bernilai guna.
Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan eceng gondok dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas menjadi probiotik dan ecoenzyme untuk mendukung kegiatan budidaya ikan.
Inovasi tersebut diperkenalkan melalui program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) JATIMPRO 2026.
Tim UB memberikan pelatihan kepada pembudidaya ikan lele dan nila di Dusun Tanggung, Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.
Program ini berangkat dari upaya memanfaatkan bahan organik yang sebelumnya dianggap sebagai persoalan lingkungan.
Melalui proses fermentasi, eceng gondok dapat diolah menjadi produk yang berpotensi membantu pengelolaan kolam ikan.
Ketua tim, Muhammad Fakhri, PhD, dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UB, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut bertujuan mengembalikan bahan organik ke dalam siklus produksi.
"Pendekatan yang kami kembangkan adalah bagaimana bahan organik yang sebelumnya dianggap sebagai masalah lingkungan dapat masuk kembali ke dalam siklus produksi. Eceng gondok dari DAS Brantas kami manfaatkan sebagai salah satu bahan untuk pengembangan produk fermentasi berupa probiotik dan ecoenzyme," jelasnya, dikutip dari laman Universitas Brawijaya, Selasa, (29/9/2026).
Dalam budidaya ikan, probiotik dapat membantu penguraian bahan organik dan mendukung pengelolaan kualitas air.
Baca Juga: Antropologi hingga Ilmu Komputer, Ini 10 Jurusan dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi
Sementara itu, ecoenzyme dapat dimanfaatkan untuk membantu sanitasi sarana, mengurangi bau, serta mengelola lingkungan di sekitar kolam.
Keduanya berpotensi menjadi alternatif untuk menghadapi persoalan yang sering dijumpai pembudidaya, seperti penumpukan sisa pakan dan kotoran ikan.
Jika tidak dikelola dengan baik, bahan organik tersebut dapat memengaruhi kualitas air dan kondisi kolam.
Agar teknologi ini bisa diterapkan secara mandiri, para pembudidaya tidak hanya diperkenalkan pada hasil akhirnya.
Mereka juga mendapat pendampingan mulai dari persiapan bahan, formulasi, fermentasi, pengukuran pH, hingga penyimpanan dan pengendalian mutu sederhana.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!

